Showing posts with label Theory. Show all posts
Showing posts with label Theory. Show all posts

Tuesday, 22 December 2015

KOMUNIKASI LEWAT FILM


Film adalah sebuah media umum yang bersifat multiimage dan efektif untuk mengantarkan pesan, sosialisasi marketing produk barang dan jasa, sekaligus media promosi ataupun media propaganda.
Kelebihan film ketimbang media komunikasi lainnya adalah sifatnya yang menghibur selain bentuk penyampaiannya yang direct berupa audio visual. Seperti diketahui, otak manusia akan lebih mudah mengingat sebuah materi dalam bentuk visual atau simbol, ketimbang pesan secara lisan.
Pun dalam sebuah film, audio bukan sekedar alat penyampai pesan secara lisan tapi lebih dari itu, audio adalah pemberi karakter dan warna dalam sebuah tayangan. Bisa diperbandingkan antara film Chaplin dengan Jurrasic Park, bagaimana permainan sound effect dalam Jurrasic Park mampu mengharu-biru jiwa penontonnya dari menit ke menit.
            Dalam teori komunikasi, muatan pesan dalam film ibarat teori jarum suntik dimana pesan akan langsung masuk ke dalam otak manusia dengan hanya sedikit proses filterisasi. Hal inilah yang membuat film menjadi media penyampai pesan yang paling efektif, sugestif, dan persuasif ketimbang media komunikasi lain.

Berikut milestone film dan imbas yang diakibatkannya:

1.      Film lahir pada 19 Maret 1895. Film pendek yang dibuat oleh Lumiere Brothers yang mengambil gambar pekerja-pekerja yang berjalan keluar dari sebuah pabrik, pada saat itu dinilai sangatlah monumental dalam dunia hiburan. Film pendek tersebut langsung menjadi perhatian dunia, menjadi pusat pembicaraan dan perdebatan.
2.      Film disamping sebuah hiburan yang sangatlah popular di seluruh dunia,  juga merupakan sebuah media pengantar pesan yang cukup efektif. Muatan persuasi pada film dinilai powerful untuk membentuk opini masyarakat. Bahkan Hitler berpendapat bahwa media film adalah media propaganda yang paling tepat. Banyak pembuatan film dilakukan jerman pada saat itu dengan tujuan mencari bakat-bakat muda yang mau diajak berperang.
3.      Menurut teori, muatan pesan yang terkandung di dalam film lebih dipecaya oleh masyarakat (penonton film tersebut) ketimbang muatan pesan yang terkandung di dalam iklan. Bahkan pesan di dalam iklan dinilai harus diwaspadai.
4.      Dalam sebuah film James Bond (Die Another Day), perusahaan otomotif Aston Martin dan Jaguar dengan susah payah menyingkirkan BMW sebagai sponsor utama. Efeknya, hasil penjualan Aston Martin menanjak. Bahkan Nokia mengantikan Ericsson untuk proyek selanjutnya dengan alasan yang sama: Kebutuhan sosialisasi dan marketing.
5.      Sosialisasi dan marketing bukan hanya berhubungan dengan barang dan jasa namun telah lari ke lokasi tempat pengambilan gambar film. Beberapa film yang dibuat dengan sengaja atau atas kebutuhan naskah akan lokasi tertentu, dengan sangat cepat meningkatkan popularitas daerah/lokasi tersebut. Beberapa contoh film yang terbukti efekif menggunakan lokasi tertentu hingga membuat lokasi tersebut menjadi lebih popular adalah :

·         OUT OF AFRICA (lokasi KENYA) dibintangi oleh Robert Redford membuat orang Amerika & Eropa berduyun-duyun datang ke Kenya sebagai wisatawan.
·         THE KING AND I dengan lokasi di Thailand telah membuka pintu pariwisata Negara tersebut menjadi lebih lebar dan menghasilkan devisa yang luar biasa.
·         Yang terbaru adalah film DA VINCI CODE, museum LOUVRE langsung kebanjiran wisatawan.
·         Di Indonesia, “ANAK SERIBU PULAU” karya Garin Nugroho menjadi media yang efektif memperkenalkan INDONESIA secara utuh kepada anak-anak Indonesia. Begitu pula film “DESAKU BERNYANYI” karya Hermawan Rianto yang berlokasi di desa Pager Jurang, Jawa Tengah mendorong minat banyak orang untuk datang ke desa tersebut melihat kerajinan gerabah dan memakmurkan desa tersebut dari status desa tertinggal.
·         FILM LASKAR PELANGI berhasil membuat orang beramai ramai mengunjungi Pulau Belitung sehingga penerbangan kesana yang tadinya cuman 1 hari ditambah karena banyaknya minat orang kesana.

Media Film adalah sebuah alat/media propaganda yang paling ampuh dalam mempengaruhi rasa, pola pikir, hidup, perbuatan dan tindakan dari seseorang. Oleh karena itulah Film selalu membawa pesan pesan bermuatan positif guna merubah seseorang menjadi lebih baik.

Karena keunggulannya sebagai media komunikasi (baca: Media penyampai pesan yang efektif, sugestif, dan persuasif), maka film bisa menjadi alat brainstorming jika kita tidak ingin menyebutnya sebagai brainwashing, dari komunikator dalam hal ini pembuat film, kepada komunikan dalam hal ini audience-nya.

KOMUNIKASI DALAM FILM FILM SAYA
Dalam menyampaikan pesan lewat sebuah film atau berkomunikasi kepada penonton, Saya pernah membuat beberapa film dengan penyampaian pesan yang jelas dan mudah di maknai (atau yang biasa kita sebut film inspiratif), namun saya juga pernah membuat film yang terlihat hanya sekedar hiburan belaka tanpa ada pesan di dalamnya. Uniknya dari antara kedua jenis film ini, dari hasil pengamatan saya terhadap hasil dampak pengaruhnya pada penonton, adalah film hiburan yang pesannya tidak terlihat dengan jelas didalamnya daripada film yang jelas jelas pesannya. Mengapa bisa begitu ?
Saya jadi teringat  teori komunikasi yang dulu saya pelajari di bangku kuliah sekolah film Institut Kesenian Jakarta.  Dimana dipelajari bahwa sebuah pesan akan lebih mudah masuk melalui otak bawah sadar daripada otak depan yang sadar. Pesan pesan yang masuk lewat otak sadar adalah film dengan muatan pesan secara pretensius atau tendensius yang secara langsung dapat disadari penontonnya. Pesan pesan seperti inilah yang biasanya tidak akan mudah masuk dan diterima penonton didalam otaknya, sebab sebelum masuk kedalam otak, pesan itu akan melalui sebuah filter, sipenonton akan menyadari jika itu adalah sebuah pesan yang dibuat lalu kemudian akan di seleksi lebih dahulu dengan akal sehatnya untuk menentukan apakah pesan itu sesuai dengan prinsip hidupnya atau tidak, bisa masuk di nalarnya apa tidak, berasal dari orang yang dipercaya atau tidak, jika otak sadarnya menolak maka pesan itu meskipun sebenarnya positif akan berubah menjadi negative karena tidak sepaham dengan pemikiran sipenonton, namun apabila sepaham, maka pesan itu akan berubah menjadi positif dan diterima didalam otak penonton meskipun tujuannya negatif.
Tidak semua pesan baik bisa dimaknai positif, mungkin kita pernah dengar ungkapan kehidupan semacam begini : “baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain”, nah didalam film juga pesan pesan yang disampaikan akan ditanggapi bermacam macam oleh isi kepala yang berbeda beda, bisa saja sebuah pesan positif berubah menjadi negative jika yang menerimanya adalah orang yang membenci seseorang di balik karyanya itu (haters). Bahkan sebuah karya sebaik apapun akan berubah isinya menjadi buruk jika si tokoh dibalik layar itu sudah dibenci pula oleh penontonnya. Inilah yang di maksud dengan kemampuan otak sadar kita untuk menyeleksi pesan pesan dari sebuah film sebelum masuk ke otak kita. Sebuah contoh : ketika kita menonton sebuah iklan komersial yang memamerkan sebuah produk dengan segala keunggulannya, maka tentu kita tidak akan serta merta langsung percaya dengan iklan tersebut karena sebelum percaya otak kita akan mengolahnya terlebih dahulu. Kita mungkin saja berpikir dulu, apa itu benar ya ? siapa tahu saja dia bohong ? ah itu kan hanya promo, biasalah namanya juga iklan dll.
Mengapa begitu, karena kita sadar bahwa itu adalah sebuah pesan iklan yang sedang  mempromosikan barang dagangannya secara tendensius. Kita sadar jika itu hanya iklan sehingga belum tentu kebenarannya. Kita sadar bahwa jangan jangan dia beriklan gara gara barangnya tidak laku. Maka dari itu kita tidak serta merta langsung menirunya.masih ada otak sadar kita yang memfilter tayangan tadi dan mencernanya.
Begitupula didalam sebuah film yang membawa pesan moral secara gamblang. Misalkan saja ada sebuah film bercerita yang tendensi berceritanya seakan menggurui penonton bahwa begini harusnya atau begitu kalau mau jadi begini, maka kemungkinan besar otak penonton akan bekerja seperti saat menonton iklan komersil tersebut. Penonton akan sadar jika diri mereka saat itu sedang digurui atau sedang diceramahi. Tidak semua orang juga tidak suka diceramahi atau digurui, buktinya kalau ada sebuah acara motivasi atau acara seminar hingga sebuah ceramah agama pasti banyak yang akan datang dan menikmatinya juga. Namun dalam sebuah produk bernama film tentu saja tidak semua orang yang datang menonton sebuah film itu tujuannya adalah untuk di ceramahi atau di gurui. Sebagian besar orang datang menonton film adalah dengan tujuan pertama mencari hiburan, nanti didalamnya baru dibagi lagi ada yang mencari hiburan plus makna, ada yang suka hiburan mata, ada yang suka hiburan sekedar menghilangkan stress dll. Yang pasti kehadiran film dalam sejarah dunia memang tak lepas dari sebuah pesan yang ingin disampaikan lewat media bergerak ini. Itulah makanya dalam pelajaran teori komunikasi yang saya dapat dibangku kuliah dulu disebutkan bahwa tak ada karya film yang tidak mempunyai pesan didalamnya, semua film semacam apapun bentuknya baik atau buruk terlihat dimata penontonnya semuanya tetap memiliki muatan pesan didalamnya, tak ada satupun karya film yang dibuat tanpa pesan dari pembuatnya didalamnya, pesan bisa dalam arti luas, bisa berarti si pembuat film ingin bercerita,ingin curhat,ingin pamer,ingin memperbaiki hidup orang,ingin melarang orang,ingin cari perhatian dll. Bagi pembuat film tentu saja hal ini adalah mutlak dimana ketika kita pertama kali akan membuat film, hal pertama yang menjadi dasarnya adalah PREMIS, Premis inilah yang biasanya berisikan pesan contohnya Premis dari film Romeo dan Juliet adalah Cinta menembus batas maut.
Lalu apakah yang di maksud dengan otak bawah sadar ?
Inilah otak yang mudah dimasuki oleh pesan tersirat yang tak berbentuk sebuah pesan secara jelas dan gamblang  melainkan ia masuk kedalam otak bawah sadar penonton lewat sebuah emosi yang berkaitan dengan si penonton terhadap karya yang ditontonnya. Mungkin kita bingung melihat sikap dan tindakan anak anak muda sekarang yang pola hidup dan pergaulan mereka cenderung mengikuti cara cara negative seperti tontonan sinetron atau film film remaja luar yang populer dimedia. Bahkan terkadang nasehat ataupun segala tindakan yang jelas jelas membawa pesan moral bagi mereka justru diabaikan ? seakan semua budaya popular dalam media TV dan Film kini menjadi budaya yang lebih mudah dihafalkan oleh generasi muda sekarang. Inilah yang disebut kuatnya pengaruh sebuah tontonan hiburan yang membawa pesan terselubung yang bisa masuk melalui otak bawah sadar itu.

Masuknya pesan yang tak bisa disadari melalui otak bawah sadar ini bagaikan sebuah teori jarum suntik dimana serum didalam suntik akan langsung menjalar kesemua jaringan darah kita menyatu disemua bagian tubuh kita tanpa kita sadari. Pesan pesan ini masuk secara diam diam karena kita tidak menyadarinya, contohnya ketika kita menonton Film yang kemudian kita sangat sukai atau idolai baik tokoh maupun ceritanya, maka secara tidak langsung dan tidak kita sadari dalam setiap hidup kita maupun tindakan kita akan dengan mudah mengikuti seperti semua yang ada dalam cerita maupun karakter si tokoh tersebut. Bahkan sipembuat film akan dengan mudah menyampaikan semua gagasan atau isi kepalanya agar penonton bisa mengikuti apa kemauannya tanpa di sadari. Namun uniknya pesan pesan yang mudah ditiru seperti ini biasanya bukan berada didalam sebuah film bertema pendidikan ataupun film inspiratif, Kebanyakan pesan pesan seperti ini justru berada didalam film film hiburan yang bertemakan fantasi atau jauh dari realita kenyataan.

Pernahkah mendengar bahwa film adalah sebuah produk budaya ? Bahkan Film adalah sebuah produk yang justru menciptakan sebuah budaya baru, menciptakan sebuah dunia baru,sebuah dongeng baru, sebuah wawasan baru, sebuah teori baru, menghidupkan sebuah karakter baru yang ilusi, semuanya berasal dari si pembuat film yang kemudian akan diikuti secara tidak sadar oleh penontonnya. Mengapa ketika sebuah film besar seperti Harry Potter, Spiderman atau bahkan Star Wars bisa membuat orang tergila gila membeli semua merchandaisenya mulai dari peralatan hingga pakaiannya ? karena penonton menerima sebuah karya yang berhasil diciptakan oleh si pembuat film sehingga dengan sendirinya karya itu menjadi sebuah budaya baru yang akan dikenang dan diikuti oleh generasi seterusnya bahkan terkadang budaya yang baru ini bisa mematikan budaya yang lama. Kita lihat saja ketika sebuah trend bisa berganti dari masa ke masa hanya karena pengaruh sebuah film, bagaimana ketika film Ghost di tahun 90 an kala itu membuat para wanita tergila gila dengan rambut ala Demi Moore. Dengan kata lain film sukses melahirkan sebuah budaya baru yang lebih ampuh racunnya mempengaruhi. Sebuah pengaruh posistif yang disematkan secara diam diam akan menjadi baik tetapi ada kalanya bisa menjadi buruk pula, contohnya melihat bagaimana banyaknya kejadian anak kecil yang terjun dari lantai gedung akibat teracuni tontonan Superman atau Spiderman. Tentu saja itu bukan salah film nya tetapi itu adalah sebuah bukti bahwa betapa kuatnya pengaruh sebuah film jika salah di pahami karena itu para orang tua memang harus hati hati memilih tontonan bagi anak anaknya atau minimal mendampingi ketika menonton meskipun dikira itu hanya film hiburan biasa. Dalam film Tom and Jerry antara tikus dan kucing kejar kejaran begitu saja bisa membuat psikologis anak merasa bahwa kekerasan itu hal yang biasa karena menonton adegan pukul memukul yang cukup extrim dipertontonkan antara Tom and Jerry yang sepintas kita anggap hanya kartun biasa. Sekali lagi semua itu bukan salah tayangannya tetapi penontonlah yang harus bijak memilihnya dan menyikapinya karena pengaruh film hiburan seperti itu justru lebih mudah masuk ke otak bawah sadar daripada jika kita memperlihatkan mereka film edukasi. Semakin kita tidak menyadari dimana nilai edukasi film itu maka semakin nilai nilai film tersebut mudah masuk kedalam otak bawah sadar kita. Jika kita sadar dan tahu dimana nilai edukasinya maka tentu otak kita akan memfilternya terlebih dahulu sehingga tak mudah menancap pesannya.

Film juga secara tidak langsung sebenarnya sudah mempengaruhi pola pikir masyarakat dari generasi ke generasi, mengubah Mind set, mencuci otak hingga meracuni bagi yang fanatik dengan idolanya. Pernahkan melihat film film dimasa perang dunia kedua dulu ? kala itu film dijadikan sebagai Propaganda politik, bahkan film film Rusia kala itu semacam Battleship Potemkim sangat tahu bagaimana memanfaatkan media film sebagai alat yang paling ampuh mempengaruhi masyarakat. Film ini adalah film bisu yang disutradarai oleh Sergei Eisenstein dan diproduksi oleh Mosfilm pada tahun 1925 di Uni Soviet. Film ini menampilkan dramatisasi pemberontakan awak kapal perang Rusia, Potemkin, terhadap pemimpin mereka di bawah rezim tsar pada tahun 1905.
Film ini disebut sebagai salah satu film propaganda yang paling berpengaruh sepanjang masa, juga sebagai film terbaik sepanjang masa pada Expo 58 di Brussels, Belgia
Film film itu bukanlah berbentuk dokumenter atau film penyuluhan semacam iklan layanan masyarakat, tetapi film hiburan yang sekilas kita akan menganggapnya film fantasi namun sebenarnya sarat dengan nilai propaganda tinggi, bahkan film komedi di masa itu dari Amerika seperti Chaplin saja yang yang terlihat sebagai sebuah hiburan biasa namun di curigai merupakan sebuah film propaganda dalam rangka menjelek jelekan dan mengolok ngolok Hitler dimasa itu yang dikenal dengan kumisnya yang khas. Pada jaman itu film memang betul betul dimanfaatkan sesuai fungsinya menghibur namun telah disusupi pesan politik meskipun  tidak terkesan sebagai produk berbau politik karena itu lebih mudah mengena dan diterima di otak penontonnya.
Saya meyakini bahwa ketika film film America yang sering menjadikan Para pemain Kulit Hitam menjadi Presiden Amerika walaupun hanya dalam sebuah film, namun itu telah menjadi sesuatu yang perlahan lahan mengubah Mindset masyarakat Amerika bahwa suatu saat mereka bisa saja dipimpin oleh seseorang yang berkulit hitam. Hingga akhirnya apa yang selama ini hanya tergambar lewat fantasi film tersebut bisa menjadi nyata ketika Obama yang berkulit hitam bisa duduk menjadi Presiden di alam nyata sesungguhnya. Padahal kita tahu sejarah Amerika yang tadinya sangat Rasis bisa perlahan lahan berubah seiring jaman. Film telah berhasil mempengaruhi dan membentuk pola pikir masyarakatnya yang tadinya berbeda menjadi menerima. Pola seperti ini pula yang saat ini sedang saya terapkan dalam film film saya selama ini di Papua dengan menjadikan anak anak dari Timur menjadi Protagonis dalam film action yang selama ini sering menempatkan orang orang Timur sebagai penjahatnya sehingga menjadi sebuah mindset yang melekat. Di Amerika bahkan sudah lebih maju dimana banyak tokoh superhero yang dimainkan oleh aktor kulit hitam, saya pikir di Indonesia pun seharusnya begitu, semua pandangan yang tabu, mindset yang sempit bisa dibuka lewat mimpi dalam fantasi sebuah film, lama kelamaan bukan tidak mungkin mimpi itu akan jadi kenyataan, contohnya saja sebelum manusia bisa kebulan sebelumnya sudah ada yang membuat cerita tersebut walaupun hanya sebuah dongeng, namun siapa sangka jika akhirnya dongeng itu akhirnya jadi kenyataan ? Ada banyak hal yang dulunya hanya berupa film yang dianggap fantasi dan tidak masuk akal, dianggap hanya mengarang saja tanpa fakta namun kemudian dimasa sekarang semua itu menjadi nyata, film memberikan motivasi penemuan baru, fakta baru dan penciptaan budaya baru. Karena itulah saya memang lebih cenderung membuat cerita kearah fiksi yang fantasi daripada kenyataan, sebab kenyataan sudah pasti bisa di gapai dan jalani didepan mata tetapi sebuah masa depan hanya bisa tergambar lewat fantasi sehingga lewat itulah yang akan menciptakan sesuatu yang bisa saja akan menjadi nyata. Ibarat membawa sebuah mimpi yang kemudian diwujudkan menjadi nyata.  Jika sudah berbentuk nyata buat apalagi diwujudkan ? tugas para pemimpi itu adalah berjuang mewujudkan sesuatu yang dianggap orang omong kosong, mimpi,bualan,hayalan menjadi sebuah kenyataan meskipun itu harus dimulai dari sebuah ilusi audio visual yang akan dijadikan prototype perwujudan aslinya dialam nyata, sebuah contoh dimana robot robot yang dulunya hanya bisa di ilusikan dalam animasi film film akhirnya kini bisa betul betul diwujudkan secara nyata. Mungkin dulu yang menonton film menganggap semua itu hanya hayalan pembuat film saja tetapi buktinya kini menjadi nyata.

Kembali pada kisah para remaja sekarang yang cenderung gayanya mengikuti dan terpengaruh oleh pola tontonan masa kini ala kebarat baratan ataupun sifat yang menyerupai drama sinetron di televisi, tentu saja itu bukan perkara mudah untuk diubah kembali sesuai norma budaya kita. Saya juga yakin jika 100 film bertema pendidikan dan pesan moral yang jelas jika dipertontonkan di mata mereka tidak akan mampu mengubah pandangan mereka untuk mengikuti satu tontonan hiburan yang mereka sukai dan idolai mati matian. Ketika dimana otak bawah sadar mereka lebih mudah menerima semua pesan yang dianggap negative itu daripada ratusan pesan positif yang tersampaikan secara tendensius dan disadari serta diwaspadai oleh mereka. Ketika mereka disuguhkan sebuah film berbau embel embel pesan moral maka belum juga menonton mungkin saja mereka akan menolak melihatnya, karena sudah merasa akan diceramahi atau di gurui, bahkan terkadang kita mendengar pernyataan seperti ini “Kalau mau di didik jangan ke bioskop lah mendingan ke sekolah, kebioskop kan untuk cari hiburan”. Pernyataan itu memang tidak salah sesuai fungsinya film memang sejatinya harus menghibur, didalam hiburannya itulah kemudian ada pesan pesannya secara halus nantinya kita dapat. Jadi pengertiannya bukan dibalik sebab jika dibalik itu sama saja dengan sekolah di TK atau Playgroup dimana tujuan utamanya Edukasi yang dibumbui dengan hiburan buat anak anak supaya mereka tidak jenuh. Prinsip Film adalah Hiburan yang dibumbui dengan edukasi sebagai salah satu elemen jika diperlukan didalamnya bukan sebaliknya.
Untuk lebih jelasnya, Bandingkan kedua adegan ini :
-          Dalam sebuah film bertema pesan moral dan pendidikan ada adegan seorang anak yang sedang mencuri lalu dinasehati oleh seorang guru yang lebih tua “hei nak kamu jangan mencuri, karena mencuri itu tidak baik” dan seterus….
-          Dalam film Spiderman ada adegan Peter parker sebelum berubah menjadi spiderman ia justru menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk mencari uang demi ambisi pribadinya pingin punya mobil agar bisa mendapatkan Mary jane, namun suatu ketika ia berpapasan dengan seorang penjahat dan ia justru memberikannya jalan meloloskannya hanya karena ia kesal pada bosnya yang memberinya upah uang sedikit, kejadian itu menjadi sumber bencana baginya ketika si penjahat ternyata membunuh pamannya yang sedang menunggunya dibawah. Sejak itulah peter akhirnya menjadi spiderman membasmi semua penjahat karena tak ingin kejadian itu menimpa keluarganya lagi.
Dari kedua adegan diatas tentu saja yang adegan pertama pesan yang disampaikan terlalu verbal dan vulgar sehingga akan berhadapan dengan otak sadar penonton. Penonton tentu akan mencernanya dulu sebelum diterima, bisa jadi ada penonton yang akan menolak pesan itu karena dianggap hanya sebuah akting saja seperti sebuah iklan, atau mungkin jika ada penonton yang kebiasaannya memang suka mencuri akan tertawa saja melihat adegan ini. Namun di adegan kedua justru pesan moral yang ditangkap dari peristiwa yang digambarkan sebagai sebuah dongeng sederhana itu justru lebih mengena karena tidak dianggap sekedar akting. Penonton terbuai dengan adegannya, menyukainya sehingga pesan pun masuk secara tidak disadari. Penonton terutama anak anak akan tertanam secara tidak sadar bahwa jiwa kepahlawanan membasmi kejahatan harus muncul demi semua orang bukan karena ambisi pribadi akhirnya kita menyesal ketika kejahatan dibiarkan merajalela dan pada akhirnya bisa merugikan keluarga kita sendiri.
Mengapa pola seperti ini justru lebih banyak digunakan oleh para pembuat film barat daripada pembuat film lokal kita ? sebab di Indonesia kita masih berputar pada sebuah pemahaman bahwa film yang baik itu adalah film yang mendidik,mengandung pesan moral dan sebagainya, semua orang kita berlomba lomba membuat film yang ada pesan moralnya sehingga bisa dipuji wah bagus ini film yang mengandung pesan moral, ini film yang mengangkat ini dan itu, tujuan utama membuat film akhirnya menjadi ingin membuat film yang mendidik melupakan nilai hiburannya, sementara orang orang di Barat telah menyematkan pesan pesan moral mereka itu kedalam film film hiburan yang selama ini kita menganggapnya tidak ada pesan moralnya. Bahkan jangankan pesan moral lewat cerita, semua aspek apapun termasuk nilai nilai artistik dalam film film luar mengandung daya pengaruh ke otak bawah sadar kita misalnya pemilihan kostum superman yang mewakili warna bendera Amerika, itu tidak secara langsung tertanam dalam mindset kita ketika melihat bendera Amerika sehingga ketika tokoh itu superhero maka kita akan ingat pula negaranya sebagai Negara superhero.
Cara paling efektif jika ingin mendidik generasi muda kita sesuai dengan apa yang kita inginkan tersebut adalah dengan cara yang sama dilakukan oleh pembuat film yang mereka sukai tersebut, yakni bagaimana memikat mereka lebih dahulu dengan hiburan yang mereka sukai dalam film tersebut, setelah mereka terpikat otomatis semua pesan yang disematkan didalamnya akan masuk secara tidak sadar ke benaknya. Ini jauh lebih berpengaruh daripada mereka di paksa mendengarkan sebuah ceramah tentang moral yang mereka akan berupaya menolaknya lewat otak kesadarannya karena dianggap mengguruinya. Inilah makanya banyak iklan atau sponsor yang lebih suka menempatkan produk mereka kedalam sebuah adegan film dari pada iklan, contohnya ketika ada adegan seorang idola di film meminum sebuah minuman bermerk tertentu dalam sebuah film tanpa terlalu menonjol, maka secara tidak langsung alam bawah sadar penonton yang fans kepada idolanya akan mengingat merk itu dan menerimanya daripada merk yang mereka dapatkan dari iklan resmi produk tersebut. hanya saja penempatan iklan dalam adegan film yang terkadang juga terlalu vulgar sehingga menjadikan antipasti dari penontonnya karena mereka sadar jika yang dilihatnya itu adalah iklan sebuah produk. Sebuah contoh penempatan iklan yang baik dan tidak terasa aroma iklannya adalah misalnya pada adegan film Home Alone 2 dimana si anak kecil memberikan tips kepada pelayan hotel dengan memberikannya permen, adegan itu seakan hanya sebuah adegan lucu namun sebenarnya menampilkan merk dari permen tersebut secara tidak disadari oleh penonton dan dengan begitu merk produk itu sukses masuk ke otak bawah sadar penonton.

Komunikasi dalam sebuah film juga bukan hanya diartikan membawa pesan moral atau pun sponsor tetapi sebagai sebuah media bercerita bagi pembuatnya. Lihat saja film film Iran dimana pembuatnya selalu bercerita tentang kultur masyarakat disana, atau bahkan dalam film Taste of Cherry yang menggambarkan kisah pencarian seorang yang ingin bunuh diri, isi filmnya berjalan jalan mengitari sebuah wilayah di Iran, namun itulah cerita tentang bagaimana alam geografis Iran yang sedang dituturkan dan diperlihatkan oleh pembuatnya kepada penontonnya, ibaratnya kita bercerita tentang bagaimana suasana dan gambaran kampung halaman kita kepada teman kita yang jauh.

Dalam film film saya sendiri sejak saya membuat film pertama hingga film yang ke enam ini di tanah kelahiran saya Merauke Papua, selalu ada komunikasi yang saya sampaikan ke penonton melalui alam bawah sadar tersebut. Sesuatu yang sangat menonjol dan selalu berulang ulang saya gambarkan dalam film film saya adalah tentang gambaran geografis Papua Selatan dimana saya dilahirkan. Sebuah wilayah yang dekat dengan dataran pantai dan rawa bukan gunung (selama ini banyak orang diluar papua yang mengira semua wilayah papua itu berbentuk pegunungan) Semua terekam dalam adegan seperti wajah kampung dan wajah kota yang begitu timpang ketika orang orang dikota begitu ramai dan hidup mewah seperti kota besar lainnya yang maju sedangkan di kampung kampung masyarakat hidup dalam kesederhanaan dan rumah rumah yang tidak layak. Jalanan  yang sulit menjangkau dari satu kampung ke yang lainnya, serta hegemonitas dan proses asmilasi masyarakat di Papua Selatan yang berbeda dengan wilayah Papua lainnya.
Film bagi saya adalah sebuah cara untuk berbicara menjawab semua pertanyaan, membalas semua hasutan, mengcounter segala bentuk fitnah, serta menceritakan dari sudut pandang di tempat saya lahir sehingga mungkin akan berbeda penafsirannya jika kita memandangnya dari luar. Sebagai contoh dalam Film Epen Cupen The Movie diadegan awal film ada shot Pemainnya berdiri didepan sebuah Mall besar bertingkat seperti dikota kota besar. Dan di Mall itu ada tulisan Jayapura Mall. Ini adalah sebuah jawaban yang saya berikan kepada orang orang yang sering sekali menganggap Papua itu seakan akan semuanya masih hutan dan tak ada Mall. Lalu juga ada adegan ketika pemain dari sebuah kampung kecil menuju kekota harus mendayung perahunya siang dan malam. Ini tentu saja hal yang dekat dengan keseharian saya di sana dimana dikampung kelahiran saya Muting, para penduduk didesa desa kecil disepanjang kali bian memang harus menggunakan transportasi perahu kecil yang dikayuh siang dan malam hanya untuk menuju ke kecamatan saja. Alam geografis di Papua tidak seperti di wilayah Barat Indonesia yang bisa ditempuh lewat jalan darat ataupun transportasi semacam bis dan kereta, minimnya transportasi layak antar daerah di Papua ini selalu berkali kali saya tonjolkan dalam film film saya selama ini. Dalam beberapa film lainnya malah berisi bagaimana saya menjawab dan menjelaskan pandangan keliru orang dari film film sebelumnya. Penjelasan tidak harus lewat kata kata tetapi lewat adegan, yang seperti inilah yang biasanya tidak disadari penonton tetapi otomatis sudah masuk dan diterima oleh otak bawah sadarnya. Yang kita lihat nanti hanya dampak yang terjadi setelah menonton saja bukan pendapatnya atau ulasan verbalnya. Terkadang si penonton menilai dengan lidah nya secara sepele atau berupaya mengabaikannya bahkan menolaknya, tetapi otaknya bawah sadarnya sendiri sudah menerimanya menjadi sebuah wawasan baru menancap tanpa disadarinya. Semua itu baru akan terlihat jika suatu ketika ia berhadapan dengan sebuah situasi yang mengharuskan ia menjelaskan sebuah hal dikenyataan yang kebetulan pernah dilihatnya di film tersebut, maka ia akan bercerita seakan akan ia sudah mengenalnya baik padahal semua itu ia dapatkan dari film yang pernah dilihatnya dan ditolaknya secara akal sehat tersebut, ternyata akal bawah sadarnya masih menyimpannya.

Ada beberapa film saya yang mungkin hanya ditangkap penonton sebagai sebuah hiburan saja atau mungkin juga mengira tak ada pesan didalamnya, ya itu justru jadi berhasil ketika penonton tidak menyadari ada pesan didalamnya, dengan begitu pesan sudah masuk lewat alam bawah sadar mereka, itulah yang terjadi lewat otak alam bawah sadar tadi. Saya sangat menghindari sebuah pesan vulgar yang jelas karena tentunya akan kurang efektif mengena dibandingkan pesan terselubung lewat alam bawah sadar tadi. Mungkin sama hal nya ketika kita bertanya apa pesan moral dalam film Harry Potter ? mungkin sulit mencarinya karena yang teringat dalam otak sadar kita hanya adegan adegan spektakuler serta efek visualnya saja padahal sebenarnya dalam setiap adegan nya dipenuhi banyak pesan moral juga hanya saja semua secara halus di blend kedalam cerita dan adegan bukan secara verbal.
Saya tidak menampik juga jika dalam beberapa film saya yang memberikan pesan moral secara gamblang dan jelas secara verbal, bahkan dalam adegan ending di Epen Cupen the Movie pun ada adegan ketika pemain protagonisnya harus mengucapkan beberapa kata yang kesannya terasa menasehati/menggurui penonton. Namun saya hanya menempatkan pesan vulgar itu diending film saja sebagai puncaknya setelah sebelumnya sebenarnya saya sudah menggiring opini dan perasaan penonton kearah maksud seperti yang diucapkan secara gamblang tersebut. Tapi sekali lagi saya lebih merasa bahwa pesan yang saya sampaikan secara tersirat akan lebih mengena dibandingkan pesan verbal yang diucapkan secara jelas tersebut. Dan pesan pesan tersirat itu ada di semua bagian film sekecil apapun meskipun penonton mengira itu hanya hiburan saja.


Jakarta, 21 Desember 2015
Acho

Friday, 17 January 2014

FILM NASIONAL DAN PROBLEMATIKANYA

<![endif]-->
     Perkembangan film Nasional kita saat ini tentu saja bisa dikatakan memprihatinkan nasibnya ditengah kemerosotan jumlah penonton dibioskop sejak beberapa tahun belakangan ini. Saya tertarik ikut mengulas fenomena ini sebagai bentuk sumbangan pikiran dengan pola pandang seorang sineas dari timur. Mengapa saya katakan seperti itu sebab tentu saja sudut pandang antara orang orang yang tinggal dibagian barat dengan bagian timur sangat berbeda jauh dalam melihat berbagai hal dinegara ini terutama masalah politik.

     Film menjadi sangat sukses dinegara ini ketika di era masa lalu dimana sebagian besar penonton tidak punya pilihan lain untuk melihat film kecuali datang ke bioskop. Lalu datanglah era dimana player pemutar film bisa dimiliki seseorang namun dalam jumlah terbatas dikarenakan harganya yang cukup mahal dan tak bisa terjangkau semua orang. Itulah jaman dimana video Betamax menjadi trend sekitar tahun 80 – 90 an. Di Merauke sendiri ada salah satu tempat penyewaan kaset betamax itu yang paling terkenal namanya Tahuna, pemiliknya adalah Mantan Camat Muting kampung kelahiran saya yang beliaunya kini telah tiada. Dulu satu satunya yang memperkenalkan kami dengan tekhnologi ini adalah beliau. Setiap malam minggu secara rutin pak camat selalu memutarkan film film seperti Film Jaka Sembung, Si Pitung, Rambo dll. Diantara film film tersebut film yang paling disukai masyarakat adalah komedi Warkop DKI. Seluruh masyarakat akan berkumpul didepan rumah camat untuk menonton lewat sebuah layar televisi 17 Inch yang ditaruh diterasnya. Tak jarang kami juga membawa tikar sambil tiduran menontonnya. Disaat saat tertentu pak camat juga menggunakan videonya itu untuk mencari dana pembangunan Gereja dikampung kami dengan cara menarik bayaran karcis pemutaran dibalai desa. Itulah pertama kalinya saya mengenal film nasional melalui sebuah kotak kecil bukan lewat layar lebar.

      Kelak kemudian saya baru mengenal bioskop ketika saya menginjak SMP, itupun terjadi saat dan adik saya dibawa orang tua saya ke kota Merauke. Film pertama sekali yang saya lihat dibioskop saat itu bersama bapak saya adalah Film Kabayan dan Gadis Kota. Kami mendapat bangku kayu dibarisan paling depan duduknya dekat layar. Saat itu di kota Merauke terdapat 2 bioskop yakni bioskop Mandala dan Ramayana. Kedua bioskop ini sangat dipadati penonton di malam malam tertentu sekalipun jaraknya sangat berdekatan, penonton hanya cukup berjalan puluhan langkah saja untuk menengok kebioskop sebelah memilih filmnya. Saya ingat ketika menginjak SMA dan harus tinggal dikotanya, dalam satu minggu mungkin ada 3 sampai 5 kali saya menonton bioskop sekalipun harus diam diam dan memanipulasi ijin sebab saya saat itu dititipkan tinggal dirumah saudara kami di Kota karena rumah kami hanya ada dikampung. Saya pernah mengantri karcis bioskop sampai terjepit dan hampir sesak nafas, bayangkan saja saya waktu itu masih kecil ditengah para orang dewasa yang sepertinya tak punya hiburan lain selain menonton. Waktu itu yang kita antrikan adalah tiket menonton Midnight. Sungguh luar biasa dikota kecil diujung timur ini film Midnight yang diputar pada jam 12 malam pun masih dipadati antrian tiketnya bahkan sampai kehabisan. Ruangan dipenuhi sesak oleh penonton. Biasanya yang diputar midnight itu adalah film film dengan poster agak seronok seperti misalnya saya ingat salah satunya berjudul Wild Orchid. Saya waktu itu ikut menonton karena tak punya pilihan lain untuk bermalam minggu selain mengikuti seorang teman saya yang sudah dewasa. Sebenarnya untuk ukuran anak  kecil seperti saya akan dilarang masuk, namun karena penjaga pintunya adalah om yang saya kenal maka dengan mudah kami diijinkan masuk. Yang lucunya adalah ketika tiba adegan hot nya akan mulai biasanya tiba tiba adegan putus secara kasar akibat gunting lembaga sensor film. Maka mulailah para penonton berteriak marah mungkin karena nafsunya tiba tiba terganggu akibat sensor tadi, mereka ada yang berteriak : wooii kasih kembali karcis... Ini kembali terjadi pada film In Bed With Madonna yang memasang poster super vulgar mengiming imingi penonton sesuatu yang hot tetapi ternyata semuanya kecewa sebab isinya adalah film dokumenter yang bahkan tak berwarna.
Seusai menonton, kami akan pulang beramai ramai dengan para penonton lain berjalan kaki hingga sampai dirumah, rasanya sangat indah masa itu dan itu terjadi berulang ulang hingga saya lulus SMA dikota Merauke dan harus melanjutkan kuliah di Jakarta.

     Itulah sekelumit kisah masa dimana film menjadi sebuah hiburan yang paling dicari orang dinegeri ini. Analisa saya itu semua bisa terjadi pada masa itu karena tak adanya pilihan lain dalam dunia hiburan visual. Sebab masa itu dikota kami hanya ada siaran televisi TVRI dan TPI saja selain itu tak adanya alat pemutar film portable yang mudah dimiliki semua orang. Saya ingat sekali dimasa SMA saya dan teman teman sering sekali berkumpul dirumah seorang teman kami yang mempunyai player betamax. Disitu kami bisa menginap hingga berhari hari hanya untuk menonton film film hasil sewaan kami di rental. Saya sejak SMA sangat terobsesi dengan kaset kaset betamax, koleksi yang saya kumpulkan jumlahnya sangat banyak. Keadaan ini memang jauh lebih baik daripada ketika saya masih dikampung Muting yang tak punya televisi serta listrik. Satu satunya hiburan saya pada masa itu adalah mendengarkan kaset cerita dari sanggar cerita. Itulah makanya tak heran jika saya hingga kini mengkoleksi ratusan kaset cerita.

     Berlanjut ketika saya mulai menduduki bangku kuliah di IKJ Jakarta, masa itu mulai memperkenalkan saya kepada sebuah alat pemutar film bernama VHS. Kembali saya menjadi orang yang terobsesi mengumpulkan VHS. Kamar kost saya sebagian besar dipenuhi sesak oleh kumpulan kaset VHS. Bersamaan dengan player VHS itu muncul pula alat yang lebih canggih bernama Laser Disc. Laser Disc ini sebenarnya sudah saya kenal sebelumnya di Merauke yakni lewat teman saya. Dirumah teman saya kami sering memutar film film laser disc, hanya saja tempat penyewaan kepingannya dikota Merauke masih sangat jarang dimasa itu. Di Jakarta lah kelak saya akhirnya bisa memiliki sendiri alat tersebut. Saya mempunya dua player VHS dan Laser Disc komplit lah julukan saya sebagai seorang yang maniak film. Apalagi dimasa tersebut tidak semua orang dirumahnya mempunyai alat tersebut. Bioskop pun diera itu masih ada penontonnya, hanya saja masa itu adalah masa dimana film Indonesia banyak yang dibuat adalah film film panas semata tanpa mempertimbangkan cerita dan sinematografinya. Untuk menonton film kami lebih sering berkumpul di kamar saya dan menyewa film film festival dari eropa disebuah rental di kemang dan ditonton hingga berhari hari didalam kamar yang sempit dan tanpa AC. Kelak ketika saya pindah dari kamar kost itu saya harus mengumpukan seluruh koleksi film saya kedalam 10 karung beras dan disimpan digudang sebab kini benda benda tersebut sudah tak bisa digunakan lagi.

     Saya memulai kuliah di sekolah film dengan niat ingin menjadi sutradara adalah tepat ketika jamannya film Indonesia sedang jatuh jatuhnya atau disebut mati suri. Saya sempat menyaksikan era sebelumnya dimana film film panas sempat berjaya, bahkan juga merasakan pernah menonton dibioskop di Simpang Senen dan PFN. Namun itu tidak bertahan lama ketika muncul larangan membuat film film panas dari MUI maka setelah itu runtuhlah film nasional. Tak ada lagi satupun film nasional di bioskop yang saya lihat sejak itu. Hanya satu saja yang sempat membuat gebrakan baru yaitu Kuldesak. Selain itu tak ada film indonesia dibioskop lagi, satu persatu bioskop selain grup 21 mulai tutup, saya juga mendengar kabar bahwa di merauke bioskop langganan kami yang hanya 2 buah itupun sudah ditutup menyusul keluarnya tekhnologi baru bernama VCD dalam bentuk kepingan cakram yang lebih praktis dan murah sehingga dapat dimiliki oleh semua orang dirumahnya. Tak dapat dipungkiri bahwa alasan dua bioskop dikota merauke menutup usahanya adalah akibat masuknya tekhnologi VCD yang tentu saja mematikan penonton mereka. Orang lebih suka memutar film dirumah lewat VCD ketika film yang diputar di bioskop adalah film film lama. Memang bioskop di Merauke adalah bioskop yang paling terakhir di Indonesia ini menerima pasokan film. Ada kalanya film itu sudah diputar di Pulau Jawa sejak lama dan akan diputar di Merauke setahun sesudahnya. Ini terjadi karena sistem proyektor yang digunakan dimasa itu masih menggunakan roll film sehingga yang dikirim kesana adalah roll roll film dimana filmnya sudah tak laku lagi dikota lain. Dengan kata lain Merauke menjadi penampung sisa sisa film yang sudah puas dinikmati didaerah lain dibagian barat. Jelas saja dengan hadirnya VCD masyarakat lebih cepat bisa menonton film film apapun hanya dengan menyewa di rental, kalau mau tunggu dibioskop mungkin tahun depan baru bisa melihatnya.

     Kilas balik mengingat ramainya penonton film ketika masih ada bioskop dikota kami itulah yang kemudian menginspirasi saya untuk kemudian mencoba menggerakkan kembali potensi pasar tersebut melalui pemutaran film film karya saya selama ini disana. Saya begitu optimis bahwa orang Merauke mempunyai niat ke bioskop masih tinggi hanya saja asal filmnya Fresh dan bukan film yang sudah ada VCD nya. Kelak kemudian tebakan saya tersebut menjadi kenyataan dimana setiap pemutaran film yang kami adakan di gedung yang disewa selalu dipadati penonton sekalipun dengan harga tiket yang lumayan tinggi.

     Masa ramainya bioskop nasional kemudian makin habis ketika tekhnologi yang datang semakin canggih dan menyenangkan untuk dinikmati dirumah. Era DVD, Blu Ray hingga Internet dengan Youtubenya kemudian seakan membuat kita malas menginjakkan kaki ke bioskop lagi. Bioskop bukan lagi sarana tempat mencari film sebab jika mencari film lebih enak mencarinya lewat mesin pencari seperti Google. Bioskop hanya bisa saya temui ketika sedang berjalan di Mall dan tak sengaja melewatinya, disaat itulah kadang kita iseng melihat ada film apa yang diputar, tapi kalau mengharapkan orang datang dengan tujuan utama menonton mungkin sudah sangat jarang terjadi dimasa kini. Satu satunya tujuan terbanyak orang untuk datang kebioskop dimasa kini adalah untuk mencari hiburan, misalnya dua pasangan yang sedang pacaran ingin mencari tempat yang enak tanpa diganggu atau dilihat orang tentu bioskoplah pilihannya. Medianya berubah menjadi ruang service publik dan bukan entertaining lagi. Untuk kalangan orang orang yang dulunya maniak film seperti saya pilihan ke bioskop lebih kepada ingin merasakan sensasi menonton secara tekhnologinya. Misalkan saya ingin menonton sebuah film dengan efek visual dan suara yang baik tentu saja pilihannya bioskop. Tapi hal tersebut juga mungkin akan berakhir jika suatu saat cita cita saya membangun home theater dirumah sendiri terwujud bisa jadi saya tak akan pernah ke bioskop lagi. Tekhnologi sekelas itu saat ini sudah menjadi murah dan bisa dimiliki siapapun dirumahnya.

      Sungguh mengenaskan nasib film dibioskop jadinya dimasa kini. Namun itulah sebuah konsekuensi yang harus diterima seiring kemajuan jaman. Salah satu cara untuk bisa mengikuti arus jaman tersebut adalah dengan ikut mengupgrade segala informasi dan pengetahuannya lewat kemajuan tekhnologi. Film film yang diinginkan penonton untuk dilihat di bioskop saat ini adalah film film dengan permainan tekhnologi yang juga tinggi seiring dengan tingginya tekhnologi pemutarnya yang menggunakan peralatan sound sistem hingga layar yang sangat besar hingga kini ada telhnologi yang setengah ruangan melingkar di Korea. Menonton film menjadi layaknya menonton sebuah wahana hiburan yang bisa membuat penontonnya terhibur segala galanya. Film tidak lagi menjadi sebuah media untuk tempat menyampaikan pesan semata seperti dulu lagi. Jika film tak bisa memenuhi kriteria tersebut maka film itu akan lebih layak dinikmati melalui layar kaca saja dalam bentuk FTV plus. Saya menyadari sepenuhnya konsekuensi tersebut sebagai seorang sineas yang besar di 3 masa. Masa keemasan film 80 an, masa kejatuhan film 90 an hingga masa ketika jelasan film/mengambang hingga sekarang ini ditahun 2000 an.

      Perlu adanya terobosan baru dari para sineas kita. Saya termasuk salah satu yang sedang memikirkan hal itu. Dan mungkin karya saya selanjutnya saya sedang mempersiapkan ke hal hal itu. Hanya saja yang perlu menjadi catatan bagi sineas kita adalah bagaimana kita bisa menempatkan konten lokal kita mengikuti kemajuan jaman tersebut. Ini tentu saja penting sebab dari semua karya yang mencoba meniru niru gaya hollywood maka tak akan pernah didapat hasil yang memuaskan. Hasil yang memuaskan akan tercapai manakala sebuah konten lokal digarap dengan pendekatan tekhnologi internasional. Membuat produk bercita rasa internasional tidak harus dengan mengikuti gaya film luar tetapi harus dilakukan dengan gaya kita sendiri. Contoh saja karya yang menembus internasional seperti Tom Yung Gung di Thailand yang kental lokal Thai Boxingnya atau The Raid yang kental lokal silatnya. Jangan pernah membuat karya tanpa menciri khaskan lokalitas kita karena itu tak akan punya nilai lebih. Analoginya sederhana saja, buat apa kita berusaha mengikuti gaya orang luar sementara orang orang hollywood saja berusaha membuat film mereka dengan mengadaptasi berbagai budaya lokal diluar negaranya sendiri. Lihat saja film Robin Hood,Hercules,dll bukankah itu kisah kisah yang bukan berasal dari Amerika sendiri asalnya ?

     Kita hanya akan mempunyai sebuah kekuatan di film lokal sendiri apabila kita bisa menggarap konten lokal kita tetapi dengan standarisasi tekhnis penggarapan ala hollywood. Kalau kita hanya meniru gestur dan gaya dari hollywood namun penggarapan tekhnis masih lokal maka itulah yang mengakibatkan jatuhnya kepercayaan penonton pada sineas negeri sendiri dimana kita dituduh hanya sebagai KW nya saja. Dan tentu saja sampai kapanpun harus tertanam dalam ingatan kita bahwa kekuatan kita tak akan pernah bisa menyamai hollywood. Seperti sebuah peperangan ketika melawan musuh dengan persenjataan dan keuangan lebih besar dan canggih maka cara mengalahkannya adalah dengan strategi dan skill yang telaten. Kita bisa mengalahkannya dengan cara lain selain menyamainya ada banyak contoh yang bisa kita lihat dari kisah kemajuan film dinegara sebelah. Cobalah bayangkan jika film sekelas Titanic misalnya tetapi yang memainkannya adalah bintang sinetron kita maka tetap saja akan dicela. Tetapi coba saja sebuah kisah sederhana atau kisah sinetron namun dimainkan oleh aktor sekelas Tom Hanks misalnya, maka tentu saja kualitasnya akan menjadi naik. Berbagai faktor memang sangat mempengaruhi itu.
Menarik memang jika kita melihat teori ini dari sebuah Pensil. Ambillah sebuah pensil lalu cobalah membuat gambar dengan pensil itu, saya pastikan jika anda bukan ahlinya dan tidak berbakat maka pensil itu akan jadi biasa biasa saja. Namun sebaliknya cobalah berikan pensil itu ke seseorang yang punya skill bagus menggambar, maka ditangannya pensil tersebut akan menjadi luar biasa bahkan tak terbayang dari sebuah pensil bisa lahir karya yang menakjubkan.

     Kata sebagian orang, penonton kita juga berperan dalam menentukan hidup matinya film dinegara ini, namun segala sesuatunya tidak bisa kita lemparkan kesalahannya kepada penonton semata. Sebelum kita menyalahkan penonton marilah kita coba bertanya pada diri kita sendiri bukankah kita juga termasuk penonton ? apakah kita saat ini mau menonton film Indonesia di bioskop ? kalau jawaban saya pribadi tentu tidak, sebab dalam tahun ini saja saya hanya menonton satu film saja dibioskop yakni tenggelamnya kapal van der wicjk itupun karena saya adalah penggemar novelnya. Karena itulah buat para sineas tak perlu menyalahkan para penonton sebab jika hal itu dilimpahkan ke kita sendiri sudahkah hari ini kita menonton film Indonesia ke bioskop ? tentu kita sendiri akan menggeleng. Jika kita saja orang yang suka film tak punya minat ke bioskop apalagi mereka penonton awam.

      Lalu ada pula saya dengar tanggapan salah satu praktisi film yang mengatakan bahwa pengaruh kritik atau review yang jelek akan membuat orang juga malas ke bioskop. Menurut saya itu juga tidak signifikan. Sebab tak pernah ada bukti bahwa kritik bisa membuat penonton jadi berkurang atau malah sebaliknya membludak. Contoh tidak jauh saja ada film Taman Lawang dan air terjun pengantin phuket yang dicela habis oleh kritikus bahkan menmpatkannya dalam daftar 10 film terburuk tahun lalu tetapi buktinya film itu adalah box office tahun 2013. sebelumnya dua tahun lalu pernah ada film Arwah goyang karawang Jupe Depe yang mendapat cacian bukan main pedasnya di sebuah review di Yahoo dan menyarankan jangan pernah menonton film ini, namun yang terjadi malah film itu hampir saja menjadi juara box office tahun 2011 dan menempati urutan kedua.
Sebaliknya coba kita lihat beberapa film yang mendapatkan review atau pujian selangit pun tidak selamanya akan berbuah penonton banyak. Contohnya film Sokola Rimba dan masih banyak lagi beberapa film lainnya yang tidak etis untuk disebutkan judulnya satu satu. Karena itulah, rasanya tidak bijak jika kita harus menyalahkan para penulis kritik tersebut juga sebagai bagian dalam mengurangi jumlah penonton sebab tak ada korelasinya kritik kritik mereka tersebut dengan kemunduran perfilman dimasa sekarang. Semua orang mempunyai hak menyampaikan pendapat. Para kritikus punya hak menulis, mengata ngatain dan itu lebih tepat disebut sebuah Opini pribadi sehingga sah sah saja di era keterbukaan demokrasi begini disuarakan masing masing orang. Selama hanya mengkritik, apapun bentuknya itu hak mereka dan sebagai sineas kita pun punya hak untuk membuat film, jadi prinsipnya selama tak ada saling melarang buat apa dipermasalahkan ? saya akan marah jika saya dilarang membuat film seperti halnya si kritikus juga tentu akan marah jika dilarang mengkritik. Jadi tak ada masalah saling menghargai pendapat satu sama lain, kritikus silahkan saja mengkritik sampai puas mengeluarkan pendapatnya dan si pembuat film juga silahkan saja membuat film sepuas puasnya dan semaunya mengeluarkan isi kepalanya. Bukankah hak kebebasan berpendapat itu dijamin dinegara ini. Kritikus mengeluarkan pendapatnya lewat tulisan dan sineas mengeluarkan pendapatnya lewat film jadi tak ada hukum yang mengharuskan salah satu pendapat saja yang harus dibenarkan, keduanya punya hak yang sama tak ada yang boleh memaksakan pendapatnya harus diterima. Yang saya tidak setuju hanya pada beberapa tulisan yang isinya sudah menuju ke fitnah, namun itu biasanya terjadi ketika si penulisnya tak mencoba meriset dahulu apa yang ditulisnya namun hanya memakai asumsi dan kira kira saja. Itulah makanya kenapa saya yang dulunya tak pernah mau membuka kehidupan pribadi saya kepublik, kini semakin sering menulisnya. Itu semata mata saya lakukan sejak adanya sebuah opini berbentuk fitnah yang mencoba menulis tentang siapa saya tetapi sama sekali ia tak mengenal siapa saya sedikitpun bahkan latar belakang saya sekalipun. Saya sendiri adalah orang yang sangat anti popularitas sebenarnya. Dahulu saya sengaja menyembunyikan identitas saya dengan maksud ingin menjadi orang dibelakang layar seutuhnya, saya hanya ingin orang mengenal karya karya saya tanpa harus mengenal siapa saya. Namun seiring dengan desakan media yang suka salah menulis tentang saya tersebut maka saya akhirnya mulai membuka diri sedikit demi sedikit melalui blog ini. Semua kisah saya ceritakan apa adanya termasuk hal hal yang pribadi semata mata agar tak ada lagi fitnah dimasa depan.

     Kini film Indonesia menjadi kembali pada titik mengambang dimana kebingungan para sienas kita tentang apa yang diinginkan penonton. Mengapa bioskop jadi sepi, selera seperti film apa yang disukai penonton. Membaca keinginan masyarakat penonton kita, Ada kalanya pendapat seorang teman saya di Merauke kadang bisa masuk akal juga, dia mengatakan bahwa film Indonesia sekarang ini penonton melihatnya dari siapa yang membuatnya dan dimana dibuatnya. Lalu saya mencoba membuat analogi sederhana semacam ini : Bagaimana jika seandainya film The Raid dengan kualitas yang sama tapi di sutradarai atau di produseri oleh KKD atau Shanker ? mungkin saja fenomenanya tak akan sekuat seperti saat ini pujiannya. Dan itu terbukti ketika KKD mencoba membuat film Jokowi yang secara ketokohan banyak penggemarnya dan dengan kualitas yang tak buruk pula, ternyata film itu juga tak sukses dipasaran alias tak banyak ditonton orang. Tetapi jika ada seorang produser atau sutradara yang sudah mempunyai basis citra baik dan banyak penggemar tertentu maka filmnya akan lumayan penontonnya bahkan diulas dalam media dengan tulisan mengandung pujian. Penonton kita lebih melihat kepada hal hal tersebut juga dalam memilih film tontonannya bukan ke premis yang ditawarkan.

     Itulah makanya jangan heran jika sepanjang sejarah film kita, tak pernah ada film indie dengan kualitas tekhnis apa adanya yang masuk dalam jajaran box officenya. Tentu saja hal ini sangat berbeda jauh dengan hollywood dimana sejarah pernah mencatat beberapa film indie dengan kualitas teknis rendah namun premis yang bagus bisa duduk dalam jajaran box office bahkan menempati ranking pertamanya. Sebut saja contohnya : Paranormal Activity, The Purge bahkan yang paling fenomenal adalah The Blair with the Project film indie anak anak kuliahan yang hanya dibuat dengan sebuah handycam saja. Hal seperti ini hanya mimpi jika kita berharap akan terjadi di Indoensia, gambaran para penonton bahwa ada harga ada barang seperti layaknya berbelanja memilih merk dagangnya ketimbang kualitasnya sehingga produk buatan lokal akan dihargai mahal jika dilabeli merk barat dulu. Sebuah film diukur dari production valuenya, jika terlihat murahan maka tak ada minat melihatnya, biasanya semua bisa terlihat hanya dari trailer dan posternya saja, sementara trailer dan poster hanya akan menginformasikan gambar bukan ceritanya. Film sejenis The Blair with the project atau Cloverfield mungkin akan dianggap bukan film jika diputar di bioskop kita. Bisa jadi kameramennya pun dibilang tidak profesional padahal memang konsep mereka disengaja begitu.

     Premis belum menjadi daya tarik bagi penonton kita, penonton masih lebih mengomentari hal hal tekhnis dibanding menghargai idenya. Jarang sekali sebuah film di Indonesia dipuji idenya, nomor satu yang selalu kita dengar adalah pujian terhadap gambarnya, dengan kata lain mungkin penonton kita suka dengan fotografi. Sebagus apapun sebuah film konsep dan idenya jika fotografinya tidak indah maka akan dicela penonton, begitu kira kira gambarannya. Karena itu jangan harapkan akan ada film dengan konsep seperti The Blair with the project untuk sukses dinegara kita.  

     Namun terlepas dari semua itu sekali lagi kita tak boleh pernah menyalahkan penonton sebab lain negara maka lain pula kulturnya, sama saja dengan kita mempertanyakan mengapa acara televisi seperti YKS yang hanya berisi hiburan belaka begitu yang sukses rating penontonnya tertinggi dibanding acara acara yang mendidik lainnya. Saya ingat betul bagaimana dilematis saya ketika membuat film untuk konsumsi masyarakat lokal di Papua. Ketika itu saya ingin membuat gambar dan lightingnya sangat filmis seperti yang selama ini saya pelajari disekolah film. Namun berdasarkan pertimbangan berbagai pihak yang memberi masukan, kami tak bisa menerapkan aturan tekhnis tersebut. Penonton lokal tidak suka melihat gambar yang gelap gelap, mereka lebih suka melihat gambar itu terang dan terlihat jelas wajah pemainnya. Praktislah tak ada pengaturan cahaya yang aneh aneh kami gunakan. Yang penting wajah pemain semua jelas. Bagi saya mungkin seperti sinetron barangkali. Ini akibat penonton masa kini telah terkontaminasi dengan sinetron. Giliran ketika film itu dipertontonkan ke orang film dijakarta maka saya akan dibilang tak bagus tekhnisnya ya serba salah, sebab sasaran kami memang seperti itu. Saya tak bisa juga membuat pola penceritaan non linear yang bolak balik karena akan membingungkan penonton disana. Setiap daerah punya cita rasa yang berbeda dalam melihat sebuah film. Seperti halnya makanan juga kan belum tentu orang dari Jakarta akan suka Sagu Bakar begitupula kami disana belum tentu suka makan Hamburger.
Saya pernah mencoba membuat editing sebuah acara balapan motor bergaya editing MTV yang sangat cepat dengan perpaduan musik keras seperti video klip dan membuatnya agak strobo gambarnya alias dikurangi frame ratenya dan hasilnya beberapa orang di merauke yang menyaksikan tayangan itu mengaku mual mual dan bhakan ada yang muntah. Mereka meminta saya merevisinya dan membuat editingnya menjadi normal saja tak usah dibuat dinamis begitu karena tak cocok dengan mata mereka, alhasil saya pun mengedit ulang dengan memperpanjang lama durasi shotnya dan menormalkan framenya kembali seperti sinetron. Itulah yang saya bilang selera luar tak bisa dipaksakan sama disebuah daerah tertentu. Mungkin ada perlunya kita mempelajari tekhnik kecerdasan EQ atau kecerdasan membaca situasi.

     Akhir dari tulisan ini saya hanya menyimpulkan bahwa untuk mengembalikan minat para penonton ke bioskop harus dimulai dari diri kita sendiri. Sebagai seorang sineas kini saya sedang berusaha untuk kedepannya membuat film tidak hanya di Papua saja. Bagi saya film film yang saya buat di Papua itu lebih dari sekedar film, itu adalah sarana saya dalam menceritakan situasi di Papua saat ini dan saat lalu dimasa kecil saya, jadi bukan kelasnya sebagai hiburan semata. Untuk dunia hiburan, Saya akan mencoba tema lain di daerah lain bahkan di ibukota dan tentu saja beberapa tahun belakangan ini saya sibuk mempelajari berbagai perkembangan tekhnologi dibidang film sebab itulah yang banyak luput dari perhatian sineas kita sekarang yang terlalu sibuk hingga tidak mengupgrade perkembangan terkini dibidang film dari luar sehingga bisa mengimbanginya, kita tak bisa lagi melawan derasnya arus film luar hanya dengan mengandalkan dan mempertahankan konsep konsep jadul, perlu ada terobosan baru bahkan aturan aturan seperti garis imajiner hingga teori film yang pernah dipelajari dikuliah pun sekarang sudah banyak dilanggar dan dimodifikasi. Dan untuk mengaplikasikan kata “dimulai dari diri kita sendiri” itulah, saya harus bisa membuat karya film yang mampu membuat, minimal saya sendiri atau teman teman dekat saya tertarik datang ke bioskop. Sebab jika saya sendiri saja atau keluarga saya tidak tertarik ke bioskop menonton filmnya lantas buat apa kita berharap banyak pada penonton film kita diluar sana yang tak akan pernah bisa kita salahkan ? ironisnya saya pernah mendengar cerita beberapa sineas yang mengatakan dia sendiri tak pernah menonton film film buatannya ketika tayang di bioskop, jika hal ini terjadi lalu siapa yang harus disalahkan ?

     Jika kembali pertanyaannya : Film seperti apa yang akan ditonton orang banyak ? maka saya lebih memilih untuk mengutip kata kata pak Sunaryo dari Grup 21 yang mengatakan ke saya bahwa : FILM ITU TIDAK ADA PROFESORNYA Jadi jelas tidak ada yang akan mampu menjawabnya dengan benar


Penulis : Irham Acho Bahtiar

Thursday, 9 June 2011

HORROR KHAS INDONESIA ADALAH TEMA FILM YANG PALING LARIS DI PASAR FILM INTERNASIONAL

Simaklah berita seputar pasar Film Cannes tahun 2010 lalu :

Festival Film Cannes
Film Horor Indonesia Laku Keras


Film horor Indonesia, ternyata berpeluang besar untuk dijual di pasaran internasional. Dari 18 film nasional yang dibawa ke ajang Festival Film Cannes 2009, lima judul film dibeli distributor internasional. Dari lima judul itu, empat di antaranya bergenre horor.

Lima judul yang terjual adalah Ayat-Ayat Cinta (MD Entertainment), Mati Suri (Maxima Entertainment), Kereta Hantu Manggarai (Rapi Films), Kuntilanak 3 (Multivision Plus), dan Pulau Hantu (Multivision Plus).

Ketua Delegasi Indonesia yang datang ke festival itu, Tjetjep Permana menyebutkan, pangsa film horor kita di dunia internasional, ternyata memiliki pencintanya sendiri. "Saya juga tidak tahu, ternyata film horor kita cukup disukai. Buktinya, ada empat judul yang laku," ujarnya ketika dihubungi SP, Senin (25/5).

Tjetjep yang juga menjabat sebagai Direktur Jenderal Nilai Seni, Budaya dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata itu menilai, genre horor Indonesia memang banyak dikritik di dalam negeri, tapi nyatanya, memiliki segmen tersendiri di kancah internasional. Dibandingkan dengan judul-judul horor Thailand yang sudah terbukti kualitasnya, Tjetjep menyebutkan, cerita horor Indonesia memiliki keunggulan tersendiri. "Ada cerita lokal yang tidak dimiliki di negara lain. Ini yang bisa dijual di pasar internasional," sebutnya.

Ke depannya, menurut Tjetjep, harus ada perbaikan kualitas film yang akan dijual. Perbaikan kualitas ini selain akan memperlebar pangsa pasar, juga akan menguatkan posisi film Indonesia di dunia internasional. "Syukur-syukur film kita tidak hanya ikut jualan, tapi juga ikut lomba festivalnya," sebut Tjetjep.

Sampai saat ini, sejumlah film yang dibawa ke Festival Film Cannes belum diikut sertakan dalam perlombaan, tetapi hanya dijual ke distributor internasional. "Syarat-syarat untuk perlombaannya sendiri sangat berat. Banyak yang harus diperbaiki jika menginginkan film kita ikut lomba di ajang itu," tambah Tjetjep.

sumber :

http://202.169.46.231/News/2009/05/26/Hiburan/hib01.htm

dan disini :

Sejak dua tahun lalu, Depbudpar memang rajin membuka stan untuk menjajakan karya film lokal agar bisa dipasarkan secara internasional. Di antara 19 film yang dibawa, tujuh film bergenre horor dan empat di antaranya terbilang laris di salah satu festival film paling bergengsi di dunia itu. Padahal, Direktur Film NBSF Ukus Kuswara mengatakan, film horor bukan termasuk film unggulan dari Indonesia. Yang diunggulkan justru film-film yang dianggap mewakili budaya dan kondisi negara Indonesia, seperti Jamila dan Sang Presiden, Ayat-Ayat Cinta, Generasi Biru, atau Queen Bee.

sumber :

http://ireztia.com/2009/06/17/film-indonesia-laku-di-luar-negeri/

Ya itulah kenyataannya yang terjadi suka atau tidak suka, Horror menjadi tema yang paling banyak dilirik di pasar film Internasional sekelas Cannes !

beberapa diantara judul judul yang terjual itu malahan merupakan film film yang menuai banyak kecaman serta cacian di negeri sendiri. sebaliknya justru film film yang diunggulkan didalam negeri seperti : Generasi Biru nya Garin Nugroho buktinya tidak dilirik pembeli di pasar tersebut, sampai sampai Menbudpar harus kembali memasarkannya tahun ini kembali.

Apakah dengan kenyataan ini kita akan berkata bahwa selera orang barat itu jelek ? tentu saja tidak, justru mereka sangat pintar dalam memilih film. buat apa menonton sesuatu yang sudah sering mereka lihat di dalam film film mereka. mereka butuh tontonan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya di film film mereka dan itu mereka dapatkan dalam film Horror kita. saya jadi ingat pernyataan seorang Barat yang mengatakan kepada film Kuldesak beberapa tahun lalu : Kalau Film macam beginian sih jumlahnya ribuan dinegara kami.

Sesungguhnya kita tak perlu heran mengapa tema horror yang paling laris di dunia ini, sebab secara psikologis saja horror sebenarnya mewakili sebuah kultur atau kebudayaan sebuah daerah yang tidak dimiliki oleh daerah lain. contoh saja Pocong menjadi sesuatu yang unik bagi negara lain sebab hanya terdapat di Indonesia dan malaysia saja. begitupula dengan Dracula yang menjadi trend karena hanya ada didaerah Rumania saja. atau vampire di Hongkong/China, dan kisah kisah itu akan terus menjadi sebuah penggalian rasa penasaran untuk mengetahui kisah lainnya dibelahan bumi ini yang masih belum terungkap misterinya. tentu kita tak heran lagi, jika tema horror atau mistis itulah yang lebih banyak terasa secara kental mengangkat budaya dan kultur sebuah daerah ketimbang film bergenre lain.

Dan ini bukan hanya terjadi di masa sekarang saja, ditahun tahun 80 an dulu pula film film horror Indonesia sebenarnya sudah lebih dikenal luas ke manca negara. lihat saja dibeberapa situs penjualan DVD original luar negeri, tercatat ada beberapa film yang dibintangi Almh. Suzanna yang laris dipasarkan diseluruh dunia. beberapa diantaranya malah menjadi Cult Movie seperti film Pembalasan Ratu Laut Selatan film yang di banned di negeri sendiri karena sarat adegan sex namun malah sukses dijual keluar. selain genre horror tentu saja genre action juga laku diluar. justru film film Indoensia yang bergenre drama kurang laku dipasar luar.

dari sini mungkin kita bisa setidaknya kembali mengingat bahwa potensi tema dan keunikan dalam sebuah film memang tidak terbatasi oleh genre apa saja. di dalam negeri kita, film tema horror atau mistis sering dijadikan cemoohan penonton seakan akan genre tsb tidak layak ditampilkan terus menerus di bioskop kita.

menurut saya itu anggapan yang terlalu berlebihan, Horror sebenarnya sebuah genre yang sangat menarik dan tak lekang oleh masa. hanya saja penggarapan yang serba asal asalan di indonesia itulah yang memperburuk citranya. seandainya horror atau mistis digarap dengan baik bukan tidak mungkin itu bisa menjadi sebuah andalan tema yang mewakili ciri khas sesuatu daerah seperti misalnya Thailand yang lebih dulu terkenal dengan horror bercita rasa lokal yang sarat akan mistis tersebut.

bahkan bukan tidak mungkin seandainya kita bisa memanfaatkan peluang potensi di genre ini sebenarnya kita bahkan bisa jauh mengungguli Thailand. ya lihat saja cerita mistis beraroma horror di Indonesia itu banyak sekali disetiap daerah pun berbeda dan unik. asal saja ya tentu digarap dengan baik, serius dan tidak rancu isinya seperti belakangan ini banyak film sex tapi berkedok horror.

Lihat saja film film buatan Dimension Film dari Holywood sangat berkelas dalam mengolah urban legend menjadi Horror menarik. dan kerap kali gaya mereka menginfluensi para pembuat film kita pula.

Sebenarnya dalam langkah penerapan ini saya telah mengimplementasikannya sebagian pemikiran saya terhadap legenda budaya dalam film saya Lost in Papua dimana sebagian akhir di film itu sedikit mengangkat keberadaan sebuah Urban Legend disana yang selama ini masih misteri (walaupun porsinya hanya sedikit di situ). Namun setidaknya ini adalah sebuah daya tarik bagi orang luar yang menyukai kisah kisah legenda diseluruh dunia. namun kembali lagi hal tersebut tertutupi misinya disaat horror dalam negeri sedang di stereotypekan secara buruk dengan merata tanpa memandang filmnya dulu. Dan lagi lagi film saya pun tak lepas dari imbas stereotype yang sudah terlanjur ada dikepala penonton Indonesia tersebut, mungkin itu sebagai dampak dari semakin miskinnya wawasan para penonton kita akan khazanah budaya maupun legenda ditanah air kita saat ini, sehingga kerap kali mereka menganggap sebuah legenda daerah itu bagaikan sebuah cerita omong kosong belaka.

sebenarnya awal munculnya justifikasi negatif terhadap genre horror itu bermula akibat banyaknya muncul genre mengaku horror yang sebenarnya malah lebih banyak mengekspose adegan sex vulgar daripada horrornya sendiri. tentu saja kenyataan ini akhirnya malah merugikan para sineas sineas yang memang suka membuat Horror bagus yang murni. saat ini sulit membedakan mana Horror bermutu dan tidak bermutu jadinya. Penonton sudah keburu bisa memvonis genre horror itu film sampah bahkan hanya dari posternya saja. dan berharap supaya bioskop Nasional saat ini berhenti menayangkan tema tema Horror lagi. Dengan begitu para sineas akan ramai ramai lari ke genre lain. tidak ada lagi keinginan Sineas yang ingin membuat horror bermutu karena takut dicap negatif.

Karena itu janganlah meremehkan tema tema Horror, mistis, urban legend, dll sebab secara fakta tema tema itulah yang kerap kali dilirik disebuah negara yang sarat akan budaya budaya unik seperti hal nya yang terjadi di Thailand.
kita hanya perlu menggarapnya dengan serius dan jika itu berhasil maka bukan tidak mungkin Indonesia malah bisa dikenal dengan film Horrornya yang bercita rasa tradisional serta mengangkat mitos daerah seperti yang pernah di tampilkan oleh Thailand di film : Kuon puos keng kang (kisah anak raja Ular) atau Kraitong (buaya pemangsa)

Untuk saat ini yang sudah mulai mengungguli lagi adalah Malaysia dengan Horor Horror dengan cita rasa Hollywood tanpa bumbu esek esek.

Jika insan perfilman cerdik dan bijaksana melihat hal ini serta pemerintah pintar menyikapi hal ini bukan tidak mungkin hal yang tadinya dibenci dibioskop kita malah sebenarnya bisa menjadi sebuah potensi buat menjadikan film Indonesia menembus pasar dunia secara besar besaran. beberapa negara telah mencontohkan bisa menembus dunia dengan genre genre : Action dan Horror. Buat apa memaksakan membuat film sekelas film Barat jika belum mampu, mengapa tidak menggarap saja tema tema sederhana yang sudah jelas jelas akan disukai orang Barat dari film Indonesia dan sudah pasti kita mampu membuatnya

Dan buat penonton sendiri seharusnya tak perlu menjudge sebuah genre tertentu karena letak kesalahan adalah bukan pada tema filmnya tetapi pada cara penggarapannya serta kemasan ceritanya. sebenarnya tema apapun dalam sebuah film itu sah sah saja selagi tergarap dengan serius dan tanpa membuatnya iseng iseng.

Kita kan sudah punya keunggulan dari keunikan ceritanya di setiap daerah, tinggal memperbaiki kualitas penggarapan tetapi dengan catatan sekali lagi : HARUS BENAR BENAR SERIUS DIGARAPNYA !

Sunday, 5 June 2011

3 MACAM LOGIKA YANG DIGUNAKAN DALAM SEBUAH FILM

Kita pasti pernah mendengar atau berkata begini : Ah film ini tidak masuk logika. Atau ah adegannya tidak masuk akal tuh, harusnya kan begini atau begitu....dan lain lain lagi.

Ya itulah bermacam jenis tanggapan penonton setelah menyaksikan sebuah film. Tidak salah memang karena para penonton terutama penonton di Indonesia lebih suka dengan hal hal yang realistis dibandingkan penonton diluar negeri yang sudah terbiasa disuguhi hal hal berbau fantasi. Di indonesia penonton sangat kritis sekali mencari celah celah logika ketimbang menikmati film sebagai sebuah hiburan saja. Sebenarnya prinsip ini akhirnya malah menyusahkan mereka sendiri karena kita tahu bahwa film itu adalah sebuah karya dimana penonton diajak masuk menyelami apa yang diinginkan oleh pembuatnya atau filmnya sendiri. Namun kenyataannya yang terjadi ada beberapa penonton yang malah ingin film itu mengikuti apa kemauannya. penonton itu akan memprotes logika sebuah film dengan menyamakan atau membandingkannya dengan logika kenyataan sementara secara tidak sadar secara keseluruhan sejak awal dia sebenarnya sudah menikmati logika filmnya yang tidak sama dengan logika kenyataan.

Kembali kemasalah Logika, saya ingin memaparkan 3 macam logika yang selama ini digunakan para pembuat film. Sebenarnya logika logika ini sudah dipahami maksudnya oleh penonton selama ini namun mereka banyak diantaranya yang tidak menyadarinya. Dengan kata lain beberapa penonton sebenarnya telah memprotes sesuatu yang dia sendiri sudah menerimanya tanpa sadar. Selama film itu mempunyai alasan sebab akibat, maka segala sesuatu yang tidak bisa diterima dalam logika kenyataan sebenarnya otomatis sudah menjadi logika film yang seharusnya tak perlu diprotes lagi.

1. LOGIKA KENYATAAN

Logika kenyataan adalah logika yang benar benar ada dikenyataan. Bukan dalam sebuah film. Kalaupun ada dalam film mungkin banyak digunakan dalam film film Dokumenter atau real shot. Dinamakan begitu karena semua logika yang dipaparkan adalah kenyataan yang benar benar terjadi tanpa direkayasa. Namun dimasa sekarang tak jarang adapula jenis jenis Dokumenter yang sudah direkayasa seperti Reality Show.

Logika kenyataan harus bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan harus bisa diterapkan dalam dunia nyata bukan hanya berupa gagasan.

Dalam menggunakan logika kenyataan, semuanya mulai dari jalan cerita hingga pengadeganan akan mengikuti logika yang umum dan diterima semua orang.

2. LOGIKA FILM

Nah logika inilah yang rata rata digunakan oleh hampir semua pembuat film diseluruh dunia. Logika ini sebenarnya merupakan sebuah tradisi yang diciptakan oleh para perintis film pertama dan lama kelamaan akhirnya menjadi sesuatu yang lumrah dan diterima secara masuk akal oleh semua orang. Logika film sendiri terjadi karena prinsip dasar film sendiri dimana faktor keterbatasan ruang, waktu, dan arah gerak dalam sebuah layar film yang hanya bisa dinikmati secara audio visual sehingga membuat perlu adanya elemen elemen serta sesuatu yang berlebihan dari kenyataan yang bisa membangkitkan Dramatic Impact dari penontonnya.

Logika film itu adalah sebuah logika yang menyusun alasan sebab akibatnya sendiri tanpa harus bergantung pada riwayat kenyataan sebenarnya. Dalam segi ceritanya misalnya, kisah sebuah film tidaklah harus didasarkan pada logika kenyataan yang persis sama. Banyak orang mempermasalahkan hal ini setelah menonton namun mereka sebenarnya tidak sadar bahwa dibeberapa bagian mereka telah menikmatinya juga.
Ada unsur sebab akibat yang dibuat sebelum memasukkan logika tersebut kecerita. Sebuah logika film akan dianggap salah apabila tidak ada alasan penyebabnya.

Prinsip dasar dari logika film sendiri adalah tersusun atas dasar sebuah alasan logikal yang diolah berdasarkan cerita yang bisa diterima penonton secara Khayalan namun belum tentu bisa diterapkan dalam kenyataannya.

Misalkan saja ada sebuah cerita film tentang Superhero Superman yang tidak masuk akal dan tentu tidak akan pernah ada semacam itu dalam kenyataan. Namun mengapa penonton bisa menerima logikanya ? sebab ada alasan sebab akibatnya.
Ada penjelasan ilmiah dalam ceritanya tentang bagaimana kekuatan super itu bisa dimiliki Superman yakni karena dia berasal dari Planet kripton dan bukan manusia Bumi. Sehingga ketika superman terbang pun penonton tidak akan terganggu logikanya lagi. Sebenarnya kalau mau dibilang secara vulgar Logika film itu seperti menipu penonton, sebab jika mau dikaitkan dengan logika kenyataan mana ada Planet bernama Kripton ? hingga saat ini pun tak bisa dibuktikan dalam kenyataan, tapi menipu untuk menghibur kan sah sah saja kan ? ibarat kita menonton acara sulap kita sudah tahu itu hanya trick tetapi kita senang ditipunya karena merasa terhibur. jika film barat yang cenderung banyak yang tidak masuk akal namun tak banyak diprotes penonton itu lebih karena kepintaran mereka mengelabui penonton lebih halus dan lebih mempesona sehingga tanpa sadar penonton menerima logika yang diberikan sekalipun mustahil terjadi dikenyataan.

Lalu contoh logika film yang diterima penonton secara tidak sadar juga banyak terjadi pada film film action atau film perang. Bayangkan saja di film RAMBO kenapa si rambo jago sekali hanya seorang diri bisa melawan semua pasukan Amerika dan kadang seakan pelurunya tak habis habis. Ini juga banyak terjadi dalam setiap film film bergenre perang. ya kalau mau mengikuti kenyataan tentu saja tak akan seru. sebab peperangan sesungguhnya dalam kenyataan tentu tak seseru di film.

Lihat saja film ROCKY yang bercerita tentang petinju. ketika adegan tinjunya, perhatikan apa yang berbeda dengan tinju dikenyataan ? ya tentu saja sangat berbeda jauh. jika dikenyataan adegan tinju menggunakan tekhnik dan perlu stamina serta sesekali harus beristirahat setelah memukul tidak asal bak bik buk saja. lain halnya di film itu tinju dibuat seakan akan sangat bergairah dan dinamis tanpa henti. sekali pukul tak ada henti hentinya seakan akan si Rocky tak punya rasa capek. baru saja bak bik buk tanpa henti tiba tiba sudah tersungkur lawannnya. Saya sendiri malah sering tertawa melihat adegan itu karena membandingkannya dengan acara tinju dikenyataan yang sering membuat boring karena kebanyakan atur strategi dan irit pukulan. ya tentu saja sebab dalam dunia nyata membuang buang pukulan keras bertubi tubi tanpa henti seperti di film Rocky itu merupakan tekhnik yang bisa membuat seseorang cepat kehabisan tenaga malahan. tapi untuk film hal itu tak jadi masalah dan buktinya penonton bisa menerimannya kog.

Di Film Indiana Jones, ada adegan si anak kecil bisa mengemudikan sebuah mobil. Jika hanya seperti ini saja adegannya maka penonton tentu akan memprotesnya tidak masuk akal mana bisa anak kecil bisa mengendarai mobil ? kakinya saja gak bisa nyampe pedal gas dan rem. Namun apa yang membuat penonton tidak memprotes adegan itu ? dikarenakan adegan itu ada alasan sebab akibatnya. Sebelumnya digambarkan kaki anak itu disambung dengan kayu sehingga kakinya pun dapat mencapai pedal gas dan rem. Sebuah alasan yang masuk akal secara film namun tidak secara kenyataan. Tapi sekali lagi penonton tentu akan menerimanya tanpa harus memprotesnya sekalipun itu mustahil diterapkan di kenyataan. Sampai saat inipun kita tak pernah mendengar ada yg mempraktekkan anak kecil yang bisa bawa mobil dengan kaki disambung kayu seperti dalam film itu.

Tapi jangan salah, logika film ini bukan hanya digunakan dalam film film fantasi, difilm film dengan adegan real pun banyak sebenarnya tidak masuk akal umum tetapi penonton tidak akan memprotesnya.
Saya pernah menonton sebuah film dari Perancis berjudul Leolo, disitu diceritakan sang ibu yang tidak bersuami bisa melahirkan anak. Secara kenyataan tentu tidak masuk akal seorang ibu bisa hamil tanpa suami terkecuali itu Muzizat tuhan. Namun diistu ada sebab akibat yang menjadikan alasan yang masuk akal sekalipun mustahil terjadi dalam kenyataan. Alasannya adalah : sebelum kejadian sang ibu hamil, digambarkan ada seorang pekerja kebun sedang masturbasi dikebun apel, lalu spermanya muncrat mengenai tumpukan buah apel yang baru dipetiknya dikeranjang. Apel itupun lalu dikirim kepenjual dipasar. Nah si ibu ini waktu itu sedang belanja dipasar dan tidak sengaja jatuh menindih tumpukan apel apel tersebut. Salah satu apel pun masuk ke kelamin si ibu. Tidak berapa lama kemudian si ibu pun hamil. Dan anak yang dilahirkannya itu dijuluki si anak apel karena dianggap apellah yang membuahi ibunya. Ceritanya sungguh mustahil dalam kenyataan apalagi kita tahu sperma kan ada masanya akan mati jika terkena udara luar, tapi untuk sebuah film itu sudah bisa diterima secara logika film sebab komplit penjelasannya ada sebab akibatnya pula secara jelas. Maka itulah yang disebut logika film sesuatu yang diciptakan dalam film yang bisa diterima sekalipun mustahil ada dalam kenyataan.

Logika film ini tidak dibuat seenaknya saja tetapi menggunakan dasar dasar logika yang ada dikenyataan sebelumnya. misalnya untuk cerita diatas itu ada dasar logika kenyataannya antara lain bahwa sperma sebagai pembuah sel telur. logika kenyataan inilah yang kemudian dirangkai menjadi sebuah logika film sehingga tidak terlalu bersifat mengarang. contohnya saja difilm Jurrasic Park diceritakan Dinosaurus dll diciptakan manusia jaman sekarang untuk hidup kembali dengan cara mengambil DNA mereka di nyamuk purba yang telah membatu berjuta tahun lalu. hal ini tentu ada dasar ilmiahnya sebab memang DNA lah sebagai unsur kehidupan itu dalam logika kenyataannya. namun sekali lagi meski telah mempunyai alasan ilmiah bukan berarti itu bisa diterapkan dikenyataan sebab sampai skrg pun buktinya tidak ada satupun ilmuwan yang bisa menciptakan makhluk purba dengan cara seperti dalam film itu. namun sebatas buat sebuah logika film itu bisa diterima.

Lalu faktor waktu dan kejadian dalam film itupun masuk dalam logika film. Penonton tidak ada satupun yang akan protes jika ada adegan seseorang masih kecil tiba tiba diadegan selanjutnya dia sudah dewasa. Itulah sebuah tradisi yang diciptakan oleh film hingga menjadi logika yang bisa diterima semua orang. Dalam waktu satu menit pun seseorang bisa menjadi tua. Dan logika itu diterima penonton.

Logika film juga banyak didapati pada seluruh elemen dalam sebuah film, seperti sound, misalnya saja pada saat adegan berkelahi. Waktu ada adegan orang kena pukul apa yang terdengar ? suara pukulan yang keras sekali terkadang Buk ! dan agak berlebihan. Sekarang coba kita praktekkan dalam kenyataan, coba pukul seseorang dan dengarkan bunyinya seperti apa. Tentu tidak akan sekeras yang terdengar di film. Bakan ada yang tidak berbunyi sama sekali. Yang terdengar malah suara teriakan Aduuuh ! dari yang kena pukul.
Selain itu masih banyak lagi seperti langkah kaki, bunyi pintu, suara angin semuanya terdengar jelas dalam sebuah film. Tapi dikenyatannya tidak ada. Ya jelas saja sebagai pembuat film saya sendiri tahu jika semua efek langkah sampai gesekan badan dalam film kan ditambahkan dari sound efek dan Foley bukan dari suara aslinya.
Lalu mengapa penonton tidak memprotesnya ? sekali lagi ini telah menjadi tradisi yang diterima menjadi sebuah logika baru seolah olah kenyataan bagi penonton.

Karena itulah jika ada penonton yang selalu mempermasalahkan faktor logika dari sebuah film, sebenarnya dia sendiri sudah menerimanya tanpa disadari dalam setiap film yang dia saksikan. Sebab dapat dipastikan semua film cerita itu pastilah dibuat dengan menggunakan logika film dan bukan logika kenyataan.
Dengan begitu, jika kita ingin memaksakan sebuah film menjadi logika kenyataan maka akan ranculah semuanya dan pasti akan menjadikan kita menuding film itu tidak masuk akal.

3. LOGIKA SUTRADARA

Logika ini sering digunakan dalam film film idealis dimana film digunakan sebagai media propaganda atau penyampaian pendapat oleh sutradaranya tanpa peduli dengan selera penonton. Film akan dibuat seperti sebuah makalah yang berdasar pada pola pikir dan sudut pandang pembuatnya. Jika penonton tidak melihat film ini dengan mengikuti kaca mata keinginan sutradara maka dijamin penonton itu akan membenci filmnya karena tidak akan memahami maksud serta logika logika yang dipaparkan.

Logika sutradara tentu tidak ada tolak ukurnya, semua tergantung pada apa isi kepala sutradara. Setelah menonton filmnya minimal penonton yang bertahan akan memahami logika yang digunakan si pembuatnya. Bahkan tak jarang logika itu bisa mempengaruhi otak penontonnya agar mengikuti logika sutradaranya.

Misalnya saja ada sebuah film yang memaparkan bahwa bunuh diri itu akan masuk sorga, dan lalu dipaparkanlah segala alasan versi sutradaranya sehingga bisa masuk akal penontonnya bahkan dari yang tadinya menolak jadi diterima.

logika sutradara akan melanggar logika kenyataan bahkan logika film sekalipun. sebab logika ini bisa diciptakan seenaknya sendiri tergantung keinginan sutradara. tanpa harus berdasar pada logika logika kenyataan maupun logika film yang masih ada dasar ilmiahnya.

Intinya jika menemukan sesuatu yang ganjil dari sebuah film, jangan pernah menyamakan Logikanya dengan Logika kenyataan sebab sudah pasti itu akan membuat anda tidak pernah dapat menikmati film itu sebagai sebuah hiburan lagi.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Kakatua Kaskus | www.kakatua.web.id | Bloggerized by Irham Acho Bahtiar --- Izakod Bekai Izakod Kai | Satu Hati Satu Tujuan