Showing posts with label Melody Kota Rusa. Show all posts
Showing posts with label Melody Kota Rusa. Show all posts

Sunday, 15 December 2013

FAKTA FAKTA UNIK DI BALIK FILM MELODY KOTA RUSA

Tulisan ini saya buat secara sangat jujur dengan sedikit membuka rahasia yang selama ini kami simpan dibalik pembuatan film Melody Kota Rusa tahun 2009, sebuah film Lokal bukan Nasional, film kecil, sederhana, tidak spesial, tidak punya kemampuan tekhnis yang sempurna, biasa saja, namun mengapa selalu saya sebut berkali kali dalam setiap tulisan saya dan mengapa saya selalu menangis ketika menyaksikannya. Kini telah menjadi karya legendaris dari Kota Merauke yang abadi.

  1. IDE NYA DARI BAHAN YANG DI TERTAWAKAN

Ide Film ini muncul sebenarnya baru pada tahun 2008 ketika akan dibuat, tetapi bahannya diambil dari memori masa lalu saya ketika kecil di kampung Muting. Mengapa justru ide ini akhirnya yang di pilih ? Sebab saya selalu teringat ketika saya bercerita kepada teman teman di Jakarta sewaktu kuliah dulu, bahwa di kampung saya di Muting dahulu di masa saya kecil, ada sebuah grup band dikampung itu yang drumnya terbuat dari kulit rusa. Kalau drumnya dipukul bunyinya “tuk tuk tuk” bukan berbunyi seperti drum sesungguhnya. Kisah itu kemudian menjadi bahan tertawaan semua teman saya seperti juga dikejadian aslinya, Ya tidak salah mereka tertawa sebab dahulu semua masyarakat Muting juga tertawa melihat drum itu. Yang lebih menjadi tertawaan teman teman adalah ketika saya lebih detail lagi bercerita tentang kegiatan grup band tersebut yakni : Mereka kalau siang latihan band namun kalau malam berburu rusa dan mencari kulit buaya. Lalu tanya teman teman : untuk apa ? saya jawab : Ya untuk cari uanglah supaya ada ongkos ke kota buat bikin album. Endingnya mereka kembali tertawa sepuas puasnya. Bagi mereka baru kali ini dengar ada band yang seperti itu, biasanya anak band  dikota kalau malam ya pergi nongkrong di Cafe atau dugem ini malah ke hutan dan rawa. Saya menganggap itu sebuah Satir yang mentertawakan keadaan kita sendiri. Bukankah semua orang memang harus berjuang untuk hidup ? untuk cita citanya ? mereka tertawa mungkin bukan karena meledek. Tapi karena ini sesuatu yang unik dan belum pernah di dengar seumur hidupnya. Maka itulah yang membuat saya kemudian bertekad mengangkat kisah ini sebagai sebuah bentuk refleksi perjuangan hidup dengan gaya komedi satir agar yang mentertawakan akan tidak sadar jika mereka sudah mentertawakan kehidupan mereka sendiri dengan begitu unsur nasehatnya tidak akan vulgar sebab dibungkus dalam sebuah hiburan.

  1. SKENARIONYA DI TULIS SAYA DITEMANI OLEH DODI MAHUZE

Ketika mulai menuliskan skenarionya, saya ditemani oleh Dodi Mahuze (salah satu pemain utama) yang terus setia mendampingi saya setiap malam hingga subuh menjelang. Ia sendiri memang tidak bisa menulis  Lalu apa peran Dodi berada disitu ? sebenarnya tidak secara langsung terlihat, tetapi yang pasti dengan adanya Dodi disamping saya selalu membuat ide ide fresh mengalir bagaikan air. Di kala saya sedang menulis, tak jarang dodi menyeletuk sendiri dan menceritakan beberapa cerita mop untuk menghibur saya, uniknya cerita cerita mop itu seakan sinkron dengan adegan yang sedang saya tulis sehingga jadilah skenario yang saya tulis tiba tiba langsung memasukkan unsur mop yang baru saja diceritakan tadi. Praktis begitu banyak adegan dalam film yang intisarinya di ambil juga dari cerita cerita mop yang pada saat itu di tuturkan oleh dodi ketika menghibur saya di tengah malam buta tersebut. Contohnya adegan makan kacang,setrika baju dll. Jadi fungsinya memancing imajinasi saya melihat tingkahnya.
Terkadang kami berdua langsung memperagakan adegan adegan yang sedang ditulis beserta dialog dialognya. Jika ada yang dirasa kurang lucu atau kurang pas dari rekonstruksi adegan itu maka saya akan segera langsung merubahnya mengikuti hasil dari praktek yang dilakukan dodi. Kejadian tersebut berlangsung selama kurang lebih 2 minggu.
Sebagian besar karakter dan adegan yang dibuat di film itu adalah hasil pengamatan saya dari cara hidup, berbicara hingga gerak para pemainnya semua, jadi kisah ini dituliskan setelah kami mendapatkan seluruh castingnya terlebih dahulu, bukan dengan mengarang sebuah karakter secara menghayal saja. Itulah makanya pada saatnya, mereka bermain sebagai diri mereka masing masing, sebab karakternya diambil berdasarkan gestur  mereka sendiri sehari hari.

  1. MENGABADIKAN TETE FRANS WAMUGU MAHUZE

Salah satu alasan kesekian yang mendorong film ini dibuat juga adalah karena saya ingin mengabadikan Tete Frans Wamugu Mahuze seorang budayawan Merauke yang menjadi sisa orang tua yang memegang sejarah Marind kedalam sebuah film. Entah kenapa saya sering ketakutan jika tidak segera mengabadikan pemikiran beliau sebab beliau pada saat itu sudah sering sakit sakitan dan usianya sudah tua. Beliau adalah salah satu pendorong kami dalam berkarya di Muting. Saya masih ingat bagaimana beliau berpidato didepan masyaraka muting ketika pertama kalinya saya kembali dari kuliah di Jakarta dan mengaplikasikan ilmu saya dengan merekam adegan Yosim. Saat itu tete Frans menghimbau kepada semua masyarakat untuk mendukung kegiatan kami dan jangan menganggap ini adalah sebuah proyek untuk mencari uang sebab kami datang untuk bertujuan membangun kampung kami. Sejak saat itulah maka dukungan dari semua masyarakat di kampung kami selalu mengalir ketika kami membuat film disana. Beberapa sejarah Marind yang tidak diketahui banyak orang dimasa kini juga sempat di ceritakan ke saya oleh tete bahkan beliau membawakan dokumen dokumennya memperlihatkannya ke saya.

Dalam film Melody Kota Rusa, tete Frans mengucapkan dialog diluar naskah. Ia tak mau mengikuti skenario yang sudah kami buat. Ketika kami mulai merekam maka ia mulai mengeluarkan banyak kata kata bijak sebagai nasehat, kami merekamnya tanpa putus. Alhasil satu adegan Tete Frans memakan satu kaset mini DV khusus untuk satu rekaman dialognya saja. Dari hasil rekaman itulah lalu kami pilah pilah di editing kata katanya. Maka terpilihlah kata kata beliau yang sempat menyebutkan kata : Bhinneka Tunggal Ika. Anehnya kata kata itu sebenarnya tidak pernah kami tulis di dalam skenario. Sewaktu mengarahkan beliau kami hanya meminta beliau untuk menjelaskan arti dari slogan kota Merauke Izakod bekai izakod Kai atau satu hati satu tujuan dan ternyata memang slogan itu mempunyai kandungan yang serupa dengan Bhinneka Tunggal Ika.

Tete juga memainkan lagu yang dipilihnya sendiri dengan biola buatannya dari kayu dan nilon pancing, tete tidak mau memainkan lagu yang di request oleh kami. Memang tete Frans adalah orang yang sangat idealis, seorang seniman sejati yang sulit dicari gantinya di masa kini.

5 bulan setelah film ini di tayangkan ke publik di Merauke, Tete Frans meninggal dunia di Muting. Begitu sedihnya saya mendengarnya. Namun sebelum meninggal beliau sempat berkata kepada saya bahwa beliau sangat senang sebagian pemikirannya telah diabadikan kedalam sebuah karya. Beliau juga sempat meminta beberapa lembar kertas HVS dan bolpen ke saya dengan tujuan ingin menuliskan sebuah sejarah yang akan dititipkan kepada saya agar tidak hilang namun hingga menjelang akhir hayatnya beliau tak sempat menyelesaikan itu dan menyerahkannya ke saya. Ketika beliau meninggal pun saya ketika itu sedang berada di Jakata dalam rangka mencetak DVD film ini.

  1. GRUP BAND MEZMANDELO

Jika yang sudah pernah menonton film Melody Kota Rusa pasti tak asing dengan kelompok Grup Walef yang penuh perjuangan harus mencari kulit buaya dan berburu rusa selain kegiatan mereka bermain band. Nah grup ini sebenarnya terinspirasi dari sebuah grup yang memang benar benar ada di kampung Muting. Namanya Grup Mezmandelo. Dahulu mereka top sekali dikampung Muting di tahun 80-90 an. Saat itu saya masih duduk dibangku SD-SMP. Kami selalu menunggu penampilan mereka di panggung 17 agustus yang sering diadakan setiap tahunnya. Kala itu drum yang digunakan grup band ini hanya terbuat dari kulit rusa. Namun uniknya mereka membentuknya seperti penampilan drum betulan. Grup band ini termasuk band yang paling eksis di kampung kami dan di sukai hingga kini. Namun ironisnya hingga saat inipun mereka masih bermimpi ingin mempunyai album rekaman dan belum terwujud. Hingga semua personelnya kini sudah tua semua, bahkan satu persatu sudah ada yang meningal dunia, rekaman hanya tinggal mimpi namun semangat mereka tetap tak pernah pupus.  Di tahun 2000 an mereka juga mendapatkan bantuan peralatan dari Bupati Merauke kisah ini semua hampir semuanya mirip dengan yang dituturkan dalam film melody Kota Rusa yang juga mendapatkan bantuan peralatan dari Bupati. Semangat Grup Mezmandelo yang tak pernah pudar hingga di masa tuanya inilah yang kemudian menginspirasi cerita ini ditulis dengan mengadirkan karakter karakter fiksi Walef Band. Kelak di film Melody Kota Rusa 2 akhirnya kami berhasil membeli hak cipta 2 buah lagu karya asli band Mezmandelo yang kemudian dibawakan oleh Grup Walef di filmnya. Lagu itu adalah : Tanjung Muting dan Tagobalo Kifit, dua lagu yang berbahasa Marind. Akhirnya tercapai juga lagunya masuk rekaman meskipun bukan orangnya.

  1. BANYAK ADEGAN REKONSTRUKSI ULANG

Seperti sebelumnya saya katakan bahwa sebagian naskah film ini dibuat berdasarkan rekam jejak kejadian masa kecil kami di Muting, salah satunya terlihat dalam adegan panggung 17 agustus, kala itu band mezmandelo tampil, drum mereka terbuat dari kulit rusa, hal itulah tak jarang kerap menjadi candaan kami semua anak anak kecil. Kami kadang mengetuk ngetuk drum tersebut sekedar ingin mendengar bunyi suaranya yang aneh hingga kami di marahi oleh personel mereka sekan akan drum tersebut adalah drum mahal yang tak boleh di sentuh, makanya keluarlah celetukan seorang teman kecil saya : ah macam dorang pu drum su bagus saja, drum kulit rusa saja mo...Memori lucu seperti itulah yang banyak di rekonstruksikan ulang persis mengikuti kejadian aslinya dalam film Melody Kota Rusa. Banyak adegan yang jika anda melihatnya mungkin akan 11-12 dengan kejadian nyatanya di masa lalu. Contoh adegan lain adalah adegan dodi membeli Mandom (tisu pewangi) di kios. Adegan itu direka ulang persis dengan kejadian yang pernah terjadi di masa kecil saya.

Adegan suasana panggung 17 agustus juga harus didekorasi ulang sedemikian rupa menyerupai masa lalu. Sebab dimasa kini tak ada lagi pasar malam yang sering diadakan dilapangan ketika agustusan. Dulu satu satunya hiburan sekali dalam setahun untuk warga muting ya melalui panggung itu. Karena itulah semua tim berupaya membangun kembali mulai dari panggung, kios kios di pasar malamnya guna menghadirkan kembali suasana ditahun 80-90 an ketika kejadian itu berlangung.

Yang paling lucu ketika kami merekonstruksi adegan Disko Bongkar. Saat itu suasana diskonya masih mirip dengan masa lalu hanya saja yang berubah kini adalah lagu yang mengiringi disko tersebut. Ketika syuting, kami mengunakan musik disko tahun 80 an. Hasilnya ketika adegan itu dibuat tidak ada yang masuk ke arena pesta untuk bergoyang. Ya tentu saja sebab generasi remaja sekarang sudah tidak mengenal musik tersebut. Yang mereka kenal masa kini adalah musik musik house atau reggae ala Papua yang bisa membuat bergoyang. Akhirnya kami terpaksa mengalah dengan cara memutarkan lagu kesukaan mereka untuk bergoyang lalu kemudian di editing kami ganti musiknya dengan musik tahun 80 an sesuai dnegan konsep cerita. Perlu diketahui bahwa adegan disko bongkar dibuat dengan menggunakan partisipan asli bukan direkayasa. Saat itu kebetulan ada paman kami yang sedang mengadakan pesta pernikahan di Muting jadi sekalian kami gunakan acara tersebut untuk pengambilan gambar film.

Masih banyak lagi adegan rekonstruksi ulang gaya dari masa lalu kami di Muting. Sebagian besar isi film tersebut sebenarnya merupakan rekonstruksi bukan mengarang.

  1. NAMA MAS SUROSO DIAMBIL DARI NAMA PENJUAL AYAM

Jauh sebelum skenario film ini di tulis, ada sebuah kejadian di pagi hari yang membuat saya tak bisa melupakannya. Ketika itu saya sedang berbicara dengan dodi didepan rumah, lalu tiba tiba orang dalam rumah ribut sekali mempermasalahkan tentang persiapan mau lebaran beberapa hari lagi. Mereka lalu menyebut nyebut kalau mau beli ayam buat dipotong tolong singgah ke rumahnya Mas Suroso. Dodi yang saat itu sedang berbicara dengan saya tiba tiba berbisik ke saya : efe bagia mas suroso aaa.... sejak itulah nama mas suroso seakan tak bisa lepas dari kepala saya sehingga ketika membuatkan karakter seorang Jawa di film yang menjadi rival dodi maka saya pun memilih nama mas suroso yang paling tepat karena dianggap sudah familiar bagi Dodi.

Mengapa harus ada karakter orang Jawa dalam film ini ? Sebab ini sesuai kenyataan yang terjadi di wilayah Selatan Papua yang multi kultur ini. Menurut survey statistik penduduk pendatang yang terbesar di wilayah ini adalah orang Jawa, bahkan foto foto sejarah Merauke ratusan tahun lalu juga sudah menunjukkan adanya orang Jawa di tengah orang Marind. Geografi kampung Muting sendiri banyak dikelilingi oleh lokasi lokasi transmigrasi yang dihuni oleh orang orang Jawa yang disebut orang lokasi. Karena itulah tokoh Jawa saya rasa harus di hadirkan mengikuti kenyataan meskipun tokoh tersebut bukan mewakili saya maupun keluarga saya sebab keluarga saya sendiri bukanlah orang Jawa. Sesuai kenyataan juga ternyata Edi Hariyanto pemeran Mas Suroso memang dikehidupan aslinya lebih banyak berteman dengan anak anak asli Marind dibandingkan orang sedaerahnya.

  1. SYUTING SERING TERHAMBAT KARENA DODI

Dibalik kemampuannya menghibur orang banyak, Dodi mempunyai fisik dan mental yang sangat lemah. Ia tidak bisa dipaksa atau di forsir melebihi kapasitasnya. Karena itulah syuting lebih dibawa santai. Namun ada kalanya ketika disuatu ketika kami harus melakukan syuting cepat misalnya ketika adegan yang melibatkan dua wanita pegawai Bank Papua kala itu yang hanya diberi waktu syuting sabtu minggu saja. Alhasil dodi pun mulai dipaksa cepat sehingga membuat dodi terkadang marah dan ngambek tak mau meneruskan syuting jika moodnya sudah rusak. Jika dodi sudah ngambek maka tak ada satupun orang yang bisa memaksanya, syuting terpaksa di batalkan meski kami sudah berjalan amat jauh keluar kota. Minggu depannya lagi barulah bisa dilanjutkan kembali setelah mood dodi kembali normal. Ada sebuah kisah ketika dodi sednag melakukan dengan Yosim, kala itu kami sudah mengumpulkan semua penduduk muting untuk melakukan Yosim. Adegan itu diambil hingga larut malam dan dodi sempat salah dialog terus sehingga ada seorang kru yang berteriak : dodi cepat sudah biar kita bisa pulang ini, karena diteriaki begitu maka mood dodi pun rusak dan berhentilah syuting. Saat itu yang tersisa sebenarnya hanya Close up dodi dan seorang cewek yang berdoialog pada saat yosim. Karena syuting tertap tak bisa dilanjut maka adegan itupun di pecah dengan diakali di ambil di tempat lain 3 hari sesudahnya. Untung saja adegan itu tetap terlihat mengalir dan tak ada yang menyangka jika diambil dalam 2 lokasi berbeda.

Mengenai pengambilan gambar yang diambil dengan banyak lokasi berbeda, bukan hanya itu saja. Ketika adegan dodi dan yosep dikejar SPOK (hantu) adegan itu terpaksa kami ambil dalam 5 lokasi berbeda. Hal ini dikarenakan dodi yang cedera bahunya ketika melakukan adegan lompat menangkap rusa. Sejak itu dodi kesulitan berlari. Kami pun mengakalinya dengan mengambil adegan lari dodi di cicil kapan saja ketika dia lagi sedang mood dan sedang kuat berlari. Maka jadilah adegan itu diambil dengan waktu acak sebanyak 5 lokasi berbeda. Malahan ada satu adegan lari yang diambil cicilannya ketika kami sedang berwisata setelah syuting telah selesai.


  1. BANYAK REKAYASA TEKHNIS DALAM GAMBAR

Ini sebenarnya menjadi rahasia kami, dan bisa mengurangi keasyikan menonton jika ini di beberkan namun karena saya sudah berjanji akan membongkarnya maka saya katakan bahwa begitu banyak rekayasa tekhnis atau manipulasi gambar didalam film yang terlihat seakan semuanya natural ini.
Memang tidak perlu semua saya contohkan supaya tetap terjaga imajinasinya. Namun sedikit contoh saja adalah adegan pemandangan indah yang terkadang muncul adalah hasil perpaduan beberapa gambar yang di ramu jadi satu sehingga menjadi sangat indah.
Ada kisah lucu ketika kami membuat film Melody Kota Rusa 2 ditempat yang sama, ada seorang kru sound yang waktu itu baru bergabung dengan kami mengaku kecewa melihat pemandangan aslinya sebab ia mengaku ingin sekali ke Muting sebenarnya gara gara menonton Melody Kota Rusa pertama yang pemandangannya indah dengan banyak rusa di alamnya. Namun ternyata yang di lihatnya sangat berbeda dengan di film itu. Karena itulah ia mengagumi tekhnik kami memanipulasi gambar sehingga menjadikan daya tarik orang yang menontonnya. Jadi dalam hal ini bukan kisahnya yang direkayasa tetapi gambarnya yang direkayasa supaya menjadi lebih indah sebagai sebuah tontonan. Itulah makanya mengapa sampai ada penampakan binatang binatang indah khas Papua secara dekat dengan manusia seperti kasuari atau burung mambruk padahal dalam kenyataannya binatang itu sangat liar dan susah dikendalikan.
Ada kisah baru baru ini tim dari TV One ingin sekali ke Muting saya tanya ke mereka : kenapa pingin ke muting ? Mereka bilang karena mau meliput keindahan pemandangannya seperti di film MKR. Maka saya jawab : tidak usah mas, karena sebenarnya tidak seindah seperti itu aslinya. Saya hanya berupaya jujur dikenyataan.

  1. ENDING CERITANYA JADI KONTROVERSI

Ini terjadi ketika di masa masa film ini jadi perbincangan di radio radio maupun media di Merauke. Hampir setiap hari saya selalu mendengar orang mempermasalahkan ending kisah ini. Bahkan yang paling ekstrim adalah ada oarang yang sampai marah sekali dia tidak terima jika band walef itu harus gagal. Mereka ingin melihat walef band harus berhasil. Saya menanggapinya dengan senang saja sebab itu pertanda bahwa film ini telah mampu mengaduk emosi mereka sehingga menganggap bahwa walef band itu benar benar ada dan bukan sekedar film. Bahkan bapak wakil bupati pun yang waktu itu kami undang menonton juga sempat mengomentari endingnya yang menurutnya kenapa harus menggantung dan tidak diselesaikan. Saya rasa mungkin inilah akibat pengaruh sinetron masa kini yang selalu berakhir dengan ending bahagia. Penonton kita masih belum bisa menerima ending ending kegagalan apalagi ketika tokoh utamanya sudah mereka idolai. Saya hanya mengambil hikmahnya saja bahwa mungkin begitulah kenyataannya dimasa sekarang, lebih banyak orang yang menganggap kesuksesan itu ukurannya adalah ambisi untuk populer atau menang, jarang sekali yang bisa menerima bahwa kesuksesan itu adalah ketika kita bisa berkumpul kembali bersama sama daripada harus populer atau menang tapi harus terpecah belah persahabatannya.
Protes ini terus berlangung dalam waktu lama sehingga ketika Melody Kota Rusa 2 dibuat, keinginan  fans ini di akomodir dengan cara membuat ending yang bahagia untuk walef band.

  1. SEMUA KRU DAN PEMAIN BUTA SINEMATOGRAFI

Semua pemain dan kru yang mengerjakan film ini adalah orang orang biasa, anak anak Merauke yang selama ini sangat buta dengan film. Sedikitpun mereka tak punya dasar pengetahuan tentang film. Hanya saya satu satunya anak Muting yang kemudian bersedia membagi ilmu saya ke mereka. Pembuatan film pun menjadi timpang sebelah, semuanya hanya seperti menurut saja tak bisa diandalkan berdiri sendiri dibidangnya. Wajar saat itu sebab inilah pertama kalinya sebuah film panjang yang akan diputar secara komersial, dibuat di kota Merauke tanpa bantuan kru luar. Banyak sekali kendala akibat kejadian ini, misalnya saja mereka akan sulit mengerti ketika sedang diarahkan. Pemain pun begitu mereka tak punya gambaran akan seperti apa hasilnya nanti, mengapa disuruh begini mengapa begitu mereka bingung sekali meskipun sudah membaca skenario.  Yang paling terasa dari hasil kerja seperti ini adalah di audionya, mengapa audionya menjadi tidak rata dan timbul tenggelam suaranya ? sebab posisi boom mic yang dipegang kru nya ditempatkan sesukanya kadang didepan wajah pemain kadang juga menghadap kebelakang kepalanya. Saya sendiri menjadi sangat kewalahan dan tak mungkin bisa mengontrol ini satu persatu sehingga wajarlah ketika ada adegan yang screen directionnya pun terbalik. Ketika editing saya sudah menyadari itu dan melihatnya namun sengaja tetap saya pasang shot yang salah itu sebab tidak terlalu mengganggu jalan cerita dan adegannya, sekaligus sebagai bukti bahwa ada keterlibatan kru kru yang buta sinematografi dalam film ini.

  1. DODI TERBAWA KARAKTERNYA DI FILM HINGGA KEDUNIA NYATA

Ini merupakan hal yang langka sekali di dunia perfilman manapun. Bagaimana mungkin seseorang yang karakternya sebelumnya beda tiba tiba menjadi berubah gara gara dia keasyikan mendalami perannya dalam sebuah film ?
Itulah yang kemudian terjadi pada dodi hingga hari ini. Dodi dulunya adalah orang yang pekerja keras ia juga jarang minum mabuk, kesukaannya malah minum coca cola atau sprite saja. Ceritanya berubah sejak ia menjadi sangat menyatu dengan karakter di film ini, di dalam  film kami menciptakan karakter dodi seorang pemabuk berat yang suka mengganggu orang. Ini adalah satu satunya sifat yang bertentangan dnegan karakter aslinya. Sifat mabuk yang di buat kedalam cerita itu adalah hasil permintaaan dodi sendiri yang sering memperagakan akting orang yang sedang mabuk alias berpura pura saja. Ternyata hanya itu satu satunya akting dodi yang paling terlhat natural. Makanya di dalam pembuatan filmnya, dodi hanya diberi minuman pura pura yang terbuat dari sirup leci menyerupai air minuman sagero. Namun dodi sangat meyakinkan berakting seolah olah itu adalah sagero betulan.

Setelah film ini kemudian sukses dan menjadikan banyak fans yang suka dengan dodi maka mulailah petaka bagi dodi. Banyak penggemarnya yang mengira dodi itu memang sifatnya persis seperti di film. Itulah akibat mereka menyangka film ini benar benar nyata. Hasilnya dodi sering sekali dijemput dengan mobil oleh para fansnya dan dipulangkan dini hari dalam keadaan mabuk berat. Suatu ketika bahkan anak anak menemukan dodi sedang merayap tengah malam didepan rumah karena mabuk berat. Lama kelamaan dodi akhirnya menganggap bahwa dirinya memang dodi yang ada di film bukan dodi di kenyataan lagi. Pengaruh film terhadap fansnya membuat dodi ikut kebagian dampaknya. Saya menyaksikan sendiri juga didepan mata saya beberapa fansnya mendatanginya sambil membawa botol minuman berisi sagero betulan. Meski saya larang dodi hanya mengelak : Ah sedikit saja....
Bahkan ketika kami melakukan pawai keliling kota saat karnaval agustus di kota Merauke, dodi diam diam menenggak sagero betulan begitu banyak sebelum melakukan pawai itu alhasil dia pun terkapar tak bangun bangun selama keliling kota. Baru ketika akan melewati para pejabat dikantor bupati dodi disadarkan dan kemudian harus dipapah setengah diseret oleh teman temannya karena masih fly berat melewati depan para pejabat dan bupati yang menonton, banyak yang tak tahu saat itu dodi sedang mabuk berat dikiranya dia sedang akting. Rupanya dodi meniru karakter yang dimainkannya didalam film. Saat ini dodi telah banyak berubah sifatnya entahlah apakah karena film atau karena apa. Yang pasti memang butuh mental yang kuat untuk memerankan sebuah karakter negatif di film, jika tidak kuat bisa berakhir seperti itu. Saya hanya bersyukur dodi tidak diberikan peran seorang pembunuh atau pemerkosa, karena apa jadinya jika itu terjadi ?

  1. BEBERAPA DIALOG KHAS DODI DIANGGAP SALAH

Setelah lama film ini beredar, saya sempat mendengar ada beberapa protes terhadap dialog khas yang diucapkan dodi seperti : Bagia ! atau Peleee !
Ini menjadi mencuat ketika dialog dodi menjadi fenomenal dan sering ditirukan orang bahkan orang diluar Papua. Bahkan banyak sekali celetukan dodi atau dialog dialog unik di film yang diambil oleh para rapper di Papua untuk dijadikan bahan remix lagunya.

Namun saya sendiri menganggap ini terjadi semenjak kepergian Tete Frans, dulu semasa beliau masih hidup tak akan ada orang yang berani protes sebab tete dianggap orang paling tua yang mengerti. Jadi jika tete saja tidak menyalahkan kenapa harus ada yang berani menyalahkan ? memang semenjak tete Frans tiada kami seakan kehilangan tameng yang selalu melindungi kami dari sisi Seniman sebab tete adalah seorang seniman sejati.

Tentu saja hal tersebut bukan hal yang serius, sebab jika kita bergaul dikota Merauke, logat logat kayak begini tidak asing lagi di telinga semua orang. Hampir semua anak merauke selalu menggunakan istilah istilah ini. Dalam film pun istilah itu keluar secara spontan dari dodi. Hal ini menjadi serius apabila di kaitkan dengan pengertian aslinya, memang gaya celetukan khas merauke itu bisa seperti kata “Cukimai” yang juga dianggap umum dan sering diucapkan di Merauke. Film Melody Kota rusa memang memotret semua apa adanya. Jika celetukan itu dihilangkan maka hilanglah pula ciri khas orang Merauke dalam berbicara di sesama anak mudanya. Bagi anak anak disana kata Bagia dan Pelee tak pernah diartikan negatif. Namun para orang tua menganggap itu seperti memaki ibu kita sendiri. Tapi sulit memang dilepaskan dari gaya dialeg orang sana silahkan dilihat sendiri dalam setiap dialog anak Merauke pasti ada kata “pele” keluar dimana saja. Kata “Pele” itu semacam mewakili kata takjub seperti “Busyed” atau “Anjrriiit” . Bahkan di film film barat itu kata makian “Fuck” menjadi hal biasa. memang kalau diartikan bisa berarti negatif tapi karena sudah menjadi ciri khas maka film hanya mencoba memotretnya secara jujur. Bukan untuk harus ditiru tetapi dipilah mana yang baik dan mana yang buruk dibuang. Kalau semua film harus memperlihatkan yang baik saja maka film itu bisa dikatakan munafik karena menyembunyikan sesuatu yang faktual.
Sekali lagi film tugasnya memotret keadaan secara jujur penonton yang harus menyaringnya jangan ditelan mentah mentah.

  1. DI TOLAK BUPATI BERKALI KALI

Sebelum membuat film ini, kami beberapa tim inti penggagas film ini sebenarnya pernah mencoba ingin bertemu Bapak Bupati Merauke yang menjabat saat itu berkali kali. Namun hingga akhirnya sampai filmnya dibuat dan ditayangkan kami tidak pernah bertemu beliau. Pernah suatu ketika kami antri didepan ruangan Pak Bupati dari mulai jam 8 pagi sampai jam 6 sore namun ketika tinggal selangkah lagi kami masuk keruangan beliau tiba tiba pengawal beliau bertanya ke kami : dari mana ? kami jawab dari tim pembuat film, lalu ditanya lagi : dari merauke atau jakarta ? kami jawab dari merauke, lalu jawab pengawalnya : oh kirain dari TVRI Jakarta. Maka kami pun di tolak masuk dengan alasan lain kali saja bapak lagi pusing. Entahlah mungkin karena kami dianggap tidak profesional dan kelas lokal, Sepertinya mereka hanya ingin menerima pembuat film profesional dari Jakarta saja. Kami sempat sakit hati sekali waktu itu, bayangkan mengantri tidak makan minum dari jam 8 pagi sampai magrib lalu sudah tinggal selangkah masuk ruangan Bupati eh ditolak. Ada kemungkinan pengawal beliau menyangka kami mau minta bantuan barangkali sebab masa itu yang antri minta bantuan ke bupati jumlahnya ratusan orang setiap hari. Padahal tujuan kami waktu itu adalah ingin meminta saran saran pak Bupati tentang kisah film kami sekaligus menawarkan beliau untuk ikut tampil dalam satu adegannya.
Yah, itu memang kisah pahit yang kami awali di awal awal perjuangan kami disana. Kini kisah itu sudah berubah, pemerintah Merauke kini sangat perhatian pada kegiatan kami dan selalu mendukung setiap langkah kami memajukan perfilman disana.

  1. TIDAK PERNAH DI RENCANAKAN UNTUK BERSAMBUNG

Ketika film ini dibuat, sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa akan ada Melody Kota Rusa 2. Bagi saya itu sudah ending yang terbaik sebagai pilihan bijak mereka, namun keadaan berkata lain. Saya harus terpaksa melanjutkannya dengan 2 alasan :
Alasan pertama adalah karena begitu banyaknya desakan fansnya tentang ending cerita yang dirasa kurang memuaskan alias menggantung. Mereka ingin melihat Walef Band sukses dan mencapai impiannya.
Alasan kedua adalah karena saya termakan dialog iseng saya sendiri. Tepat ketka masa masa pemutaran filmnya di gedung gedung merauke. Ada beberapa pemainnya yang iseng bercanda meminta saya membuat Melody Kota Rusa 2 nantinya lalu saya bercanda, nantilah kita lanjutkan jika Tete Frans sudah tidak ada, jadi nanti kalian akan ada adegan ke kuburannya. Tak lama setelah itu ternyata tete Frans meninggal dunia begitu cepat sehingga saya pun merasa bahwa mungkin memang harus dilanjutkan dalam waktu cepat pula kalau begitu.
Maka dibuatlah film Melody Kota Rusa 2 pada tahun 2011 yang kali ini berhasil melibatkan bapak Bupati bermain didalamnya. Hari pertama film ini ditayangkan secara komersil di Merauke, dipenuhi oleh fans fans berat film ini. Selain kota Merauke, MKR 2 juga telah menyinggahi kota kota Boven Digoel,Sorong,Salatiga,dan dalam waktu dekat akan ke Jayapura.
Ternyata setelah diwujudkan yang keduanya, masih ada saja permintaan yang meminta lanjutan yang ketiganya lagi, saya bilang memangnya ini sinetron ? saya hanya bilang ke pemainnya mungkin kita akan bikin yang ketiganya kalau kalian sudah tua nanti, jadi cerita tentang anak anak kalian yang jadi pemain band. Terkadang keinginan fans bisa juga menjadi kenyataan.

  1. MEMPERTAHANKAN SEBUTAN MERAUKE SEBAGAI KOTA RUSA

Ketika film ini dibuat, sebenarnya nama sebutan Merauke sebagai Kota Rusa sudah mulai hilang atau jarang disebut lagi. Memang julukan itu dulu populer ditahun 80-90 an ketika bintang rusa masih sangat banyak dan bahkan bisa dilihat di pinggir jalan atau rawa. Namun kini rusa mulai punah dan lari jauh masuk hutan karena terus diburu secara massiv. Karena itulah pemerintah berencana akan mengganti nama julukan Merauke dengan panggilan baru merauke kota Agropolitan sebab dimasa itu pemerintah sedang mencanangkan merauke sebagai lumbung padi nasional. Nama Kota Rusa sendiri rencana memang mau dihapuskan sebab pemda ingin mengangkat Kangguru yang dianggap hewan habitat asli Papua. Rusa dianggap sebagai hewan yang bukan endemik Merauke. Rusa dibawa oleh orang Belanda kesana. Apa daya ternyata pengaruh film begitu kuatnya melebihi keinginan pemerintah sehingga sejak populernya film ini menjadikan semua orang maupun media kembali menyebut Merauke dengan panggilan Kota Rusa yang pernah populer dimasa lalu.

  1. FILM NYA DIJADIKAN STANDART MENGENALI MERAUKE

Ini saya dengar dari beberapa penuturan orang yang datang bertugas ke Merauke. Yang pertama adalah dari seorang pegawai Bank yang bercerita dulu sewaktu ia mendapat tugas ditempatkan di wilayah Merauke-Muting semua keluarganya tidak setuju dan khawatir. Mungkin karena selama ini mereka berpatokan pada media massa yang selalu mengeksploitasi kekacauan di Papua secara menggeneralisir lewat berita. Namun akhirnya yang membuat orang itu akhirnya bisa di restui keluarganya ke Merauke adalah ketika mereka menonton film Melody Kota Rusa. Sejak itulah mereka bilang lho ini kog damai damai saja buktinya disana, siapa bilang rusuh dan menakutkan ? maka ia pun akhrnya datang bertugas di Muting.
Kisah kedua adalah dari penuturan bapak bapak tentara yang baru saja bertugas menggantikan pasukan yang setiap tahun di tempatkan bergantian di wilayah perbatasan RI-PNG yang selalu kami lewati setiap dari Merauke ke Muting.
Mereka bercerita bahwa film kami kini dijadikan sebuah tontonan wajib buat para petugas yang akan berangkat ke ujung Timur dengan tujuan untuk mengenali wilayah geografis, adat dan kultur masyarakat setempat. Kita tahu bahwa sering sekali terjadi gesekan antara masyarakat dengan para petugas lapangan ini akibat mereka tidak mengenali tata cara kehidupan disana. Karena itulah mereka diharuskan menonton film ini agar bisa beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat yang nanti akan didatanginya.
Jadi siapapun yang belum pernah ke merauke bisa menonton film ini dulu sebelum kesana agar tidak salah paham menyangka Merauke sama dengan wilayah Papua lainnya.

  1. PERUSAHAAN AIR MINERAL AQLAA MELESAT MAJU

Ini sebenarnya terlalu komersil informasinya namun fakta ini dirasa mempunyai keunikan juga sebab, perusahaan kecil air mineral lokal bernama Aqlaa ikut berdiri dan maju seiring kesuksesan film ini pula. Aqlaa adalah satu satunya perusahaan air minum lokal yang mempercayai kami dan memberikan bantuan dana ketika film ini dibuat sebagai sponsor. Maka dibuatlah adegan dalam film melibatkan produk tersebut. Siapa sangka penempatan produk itu ternyata berdampak luar biasa. Pemiliknya mengakui omsetnya melonjak naik tidak bisanya bahkan bisa berpuluh puluh kali lipat. Bahkan katanya mereka sampai kewalahan menerima pesanan, dan mereka juga terpaksa menolak permintaan banyak daerah seperti Asmat karena terbatas airnya. Bayangkan sebuah perusahaan air mineral sampai mengaku kewalahan karena kehabisan stok air ! padahal air yang mereka pakai hanya air sumur biasa. Perlu diketahui bahwa sebelum Aqlaa pernah ada sebuah perusahaan air minum lokal lain dengan modal yang lebih besar buka di Merauke namun mengalami kebangkrutan dan tutup karena tak mampu bersaing dengan air minum yang bermerk nasional seperti Aqua atau Vit. Aqlaa menjadi produk yang beruntung bisa bersama sama meraih kesuksesan popularitas bersama film ini. Hingga saat ini masyarakat Merauke sudah mempercayai Aqlaa sama seperti air minum kualitas nasional lainnya. Setiap pesta maupun acara pemerintah hingga pesawat terbang sana pun kini sudah dominan menggunakan Aqlaa. Itulah makanya tidak heran ketika kami membuat film lagi setelahnya, semua film kami tetap di dukung dan diberi sumbangan oleh Aqlaa, itu karena pemiliknya merasa bahwa film ini memang punya pengaruh besar dalam menaikkan perusahaannya seperti sekarang ini. Aqlaa kini sudah menambah bangunan pabriknya lebih besar dan karyawan yang banyak tidak lagi seperti ketika film ini dibuat karyawannya dulu hanya sipemiliknya sendiri bersama istrinya saja.
Sulit sekali saya juga menceritakan perkembangan pesat ini sebab yang bisa menceritakannya sebenarnya adalah pemiliknya sendiri atau datanglah sendiri dan saksikan bagaimana Aqlaa menjadi begitu populer sekarang di Merauke.

  1. MKR TERCATAT DALAM BUKU SEJARAH PERFILMAN NASIONAL

Sesuatu yang mengejutkan datang ketika kami berkunjung ke Direktorat perfilman Nasional pada tahun 2012 lalu bersama Kepala Dinas Kebudayaan Merauke. Saat itu kami diberikan kenang kenangan oleh oleh masing masing satu tas berisi Buku sejarah perfilman Nasional yang dicetak setiap tahun serta beberapa DVD Dokumenter. Kami pun melihat bahwa film Melody Kota Rusa ternyata tercatat didalamnya sejak tahun 2011 hingga kini. Yang menjadi unik bagi kami adalah sebab sebagian besar film yang dicatat dalam buku sejarah itu adalah film film yang pernah tayang di bioskop Nasional kita. Saya bahkan sempat mencari cari data film teman teman saya dari daerah lain ternyata tak ada tercatat. Buku ini memang bercerita tentang sejarah bioskop di Indonesia sejak jaman Belanda dulu. Sekedar info bahwa film Melody Kota Rusa sendiri tak pernah didaftarkan secara resmi ke perfilman nasional dan dulu di masukkan ke Lembaga Sensor Film hanya melalui calo pembuat DVD Orignal di Glodok atas nama perusahaan lain.
Mungkin saja film kami dimasukkan ke buku sebab memang telah menjadi bagian dari sejarah perfilman di tanah Merauke dan Papua yang dirasa pantas untuk dicatatkan dalam buku sejarah Nasional pula.






  1. HINGGA HARI INI BAJAKANNYA TETAP LARIS DI TIMUR

Inilah sesuatu yang jarang terjadi dalam film film sebelumnya sebab setiap film itu dikatakan ada masanya. Setahun dua tahun kemudian akan ada film baru sebagai gantinya dan film lama akan hilang dari peredaran. Namun untuk MKR ini saya sendiri bingung hingga hari ini para pembajak tetap antusias membajaknya bahkan bermacam versi saya lihat dikeluarkan mulai dari versi cetak ulang cover sampai dengan mengelabui orang dengan menulis Melody Kota Rusa 2 namun ternyata isinya gabungan film nasional dan Melody Kota Rusa pertama. Melody Kota Rusa 2 sendiri sampai hari ini masih ditahan DVD nya oleh produsernya karena kecewa dengan pembajakan.
Beberapa waktu lalu bahkan saya sempat berjalan jalan di beberapa mall di kota Makassar. Ternyata disana karya karya kami pun sepeti MKR ini ada di tumpukan DVD yang dijualnya.
Mungkin saja bisa berlangsung hingga puluhan tahun, dimana banyak generasi berganti yang kemudian akan menganggap ini kembali seperti sebuah film baru sehingga pembajakpun tak akan pernah putus putus mengedarkannya sampai kapanpun.

Saya juga tidak heran ketika saya singgah di lapak lapak penjual DVD bajakan didepan toko toko Merauke, beberapa diantaranya adalah agen pemasok DVD bajakan. Mereka begitu ramah ke saya bahkan saya sering sekali dipersilahkan mengambil film apa saja sesuka saya tanpa harus membayar. Saya kadang membawa pulang puluhan DVD kerumah tanpa bayar. Para pembajak itu berkata bahwa mereka sudah terlalu banyak untung dari karya karya kami selama ini, bahkan salah seorang berbisik bahwa bos mereka di Jakarta sekarang sudah kaya raya gara gara film Melody Kota Rusa katanya. Bosnya itu memasok keseluruh timur Indonesia katanya. Menurut berita, di Ambon itu pusatnya penggemar MKR sampai pernah keluar beritanya di Media Indonesia yang menulis penjualan DVD MKR mengalahkan penjualan DVD film Nasional disana. Itulah makanya kenapa para bos pembajak itu sekarang sangat menunggu master DVD MKR 2 segera keluar agar mereka bisa tambah kaya lagi.

Produsernya sendiri adik saya sekarang tak lagi menjual DVD originalnya sebab semua DVD original MKR sudah habis terjual dimana mana, tak ada keinginan produser mencetak ulang lagi sebab itu sudah dilakukan berpuluh puluh kali.
Dulu pertama kalinya filn ini di edarkan secara resmi dikota Merauke secara orignal, 1000 kepingnya langsung habis dalam waktu dua minggu saja.

20.  TAK PERNAH ADA MASTER FILM HIGH RESOLUTIONNYA

Dan inilah Fakta terakhir yang cukup langka untuk sebuah Film. Melody Kota Rusa ketika di edit sempat rusak Hardisknya 2 kali. Semua gara gara lampu dirumah sang produser atau adik saya sering sekali mati atau turun voltasenya, sementara komputer tak menggunakan Stavolt atau stabilizer. akhirnya yang terjadi editing pertama yang sudah jadi 75 persen tak bisa dibuka kembali. Hardisk pun dikirim ke Jakarta namun di Jakarta pun mereka menyerah, lalu kembali kami membeli Hardisk baru dan memulai editing dari nol lagi. Mulai dari mengcapture ulang kaset per kaset mini DV lewat kamera XL One, setelah itu di edit. ketika semua sudah final edit, hasil masternya dalam bentuk AVI berhasil kami render dan simpan. namun saat itu untuk penayangan di gedung kami lakukan hanya melalui DVD player saja karena itulah kami pun mengkompressnya menjadi DVD. karena durasi filmnya sekitar 2 jam lebih maka kompressing videonya diturunkan bitratenya hingga 2500 itulah makanya agak pecah pecah namun harus dilakukan agar muat dalam kepingan dvd 4 Giga. Apa daya ketika semua pemutaran usai dilakuakn kembali hardisknya rusak. Untunglah kami masih punya satu satunya data film finalnya di dvd itu. Maka sejak hari itu hingga kini MKR tak punya master dalam format yang High resolution. Yanga ada hanya master DVD yang sudah dikompress 2500 bitrate rendah saja. Itulah makanya sudah beberapa kali ada orang dari Provinsi yang meminta Masternya buat dikirim ke festival namun kami tak bisa apa apa karena kami tak punya masternya. Yang di upload ke youtube dan dibajak dimana mana pun itu adalah hasil master dvd low resolution tadi, jadi jangan heran gambarnya sedikit pecah pecah jadinya karena hanya master itu yang kami punya, kecuali jika ada yang bersedia mengeditnya ulang kembali.

Sunday, 19 May 2013

LAGU LAGU SOUNDTRACK DI FILM MELODY KOTA RUSA 2

Saturday, 9 March 2013

VIDEO DI BALIK LAYAR PEMBUATAN FILM MELODY KOTA RUSA

VIDEO DIBALIK LAYAR PEMBUATAN FILM MELODY KOTA RUSA BAGIAN 1

 dokumentasi di balik layar film melody kota rusa ini memperlihatkan bagaimana film ini digarap dengan penuh kesederhanaan dan semangat kebersamaan. Betapa sulitnya mengarahkan para pemain baru terutama dodi tidak seenak ketika kita menontonnya, semuanya dengan kerja keras dan kesabaran sehingga karya ini akhirnya bisa menjadi sebuah hiburan yang menarik di daerah timur Indonesia


 VIDEO DIBALIK LAYAR PEMBUATAN FILM MELODY KOTA RUSA BAGIAN 2

dalam dokumentasi dibalik layar MKR dibawah ini terlihat tim dibalik layar yg berusaha ulang ulang mengarahkan dodi sebaik mungkin agar terlihat lucu seperti yang telah anda saksikan dalam film Melody Kota Rusa, karena dodi kesulitan membaca skenario dan tak bisa berimprovisasi maka dialog diucapkan sepenggal sepenggal dengan cara mengeja dan menuntun per kalimat untuk ditirukan lalu kemudian akan diedit sambung sambung di editing hingga menjadi enak dilihat dan mengalir, total seluruh adegan lucu yg dihasilkan adalah atas kerja keras tim membentuk karakter pemain pemainnya


VIDEO DIBALIK LAYAR PEMBUATAN FILM MELODY KOTA RUSA BAGIAN 3

di bagian ke 3 ini memperlihatkan proses pengambilan gambar sewaktu adegan yosim dimana dodi memerankan adegan makan kacang bersama sarlota yang membuat orang tertawa, diluar dugaan saat sedang syuting dodi tiba tiba BAD MOOD dan ngambek gara gara kesal dengan seorang kru. semua orang mencoba memaksa namun dodi tetap tidak semangat, akhirnya syuting pun ditunda dan dilanjutkan di hari lain padahal sudah hadir ratusan figuran masyarakat kampung yang siap beryosim, butuh waktu sekitar 3 hari untuk membujuk dodi kembali melanjutkan adegan yosim itu. Adegan yosim pun diambil dengan jumping shot di 2 tempat berbeda. Ada pula suasana bagaimana membangun set pasar tempat mas suroso berjualan di sebuah kawasan lokasi transmigrasi, tempat itu sebenarnya kosong tapi kemudian di set menjadi sebuah pasar lengkap dgn figuran2 pembeli dan penjual


 VIDEO DIBALIK LAYAR PEMBUATAN FILM MELODY KOTA RUSA BAGIAN 4

 di bagian ke empat behind the scene MKR ini diperlihatkan bagaimana membuat adegan suasana panggung 17 agustusan di kampung Muting. Terlihat panggung dan lapangan yang tadinya kosong harus di dandani oleh tim artistik yg terdiri dari semua kru dan pemain bahu membahu menghias panggung dan lapangan, selain pentas juga ada di dirikan tenda para penjual, menghidupkan kembali suasana pasar malam dan HUT RI dikampung yang saat ini sudah hilang dan tak pernah diadakan lagi dalam dunia nyata. Film ini mencoba mereka ulang kembali kenangan kejadian tahun 80-90 an itu dikampung Muting Merauke Papua.




 VIDEO DIBALIK LAYAR PEMBUATAN FILM MELODY KOTA RUSA BAGIAN 5

 di bagian 5 ini kita akan lihat bagaimana adegan pesta disko bongkar di kampung muting dibuat, bukan dengan memanfaatkan sebuah pesta betulan tetapi suasana pesta dibuat dan diadakan oleh tim artistik, mulai dari membuat tenda tradisional cara orang muting pesta dari daun kelapa sampai mendatangkan para penduduk kampung untuk ikut mengisi frame agar terlihat seperti suasana pesta betulan.

film melody kota rusa dibuat dengan budget yang sangat minim dan dikerjakan oleh kru kru anak anak merauke sendiri bahu membahu tanpa mengenal pemain atau pekerja semua adegan di reka ulang sebab banyak elemen elemen kultur masyarakat di kampung muting yang saat ini sudah hilang dan tak pernah diadakan lagi misalnya acara yosim,acara disko bongkar,panggung hiburan 17 an dll lewat film inilah semua itu diabadikan, memotret kenangan masa kecil dibesarkan di kampung muting merauke papua.




 VIDEO DIBALIK LAYAR PEMBUATAN FILM MELODY KOTA RUSA BAGIAN 6

 di bagian ke 6 ini ada satu adegan yg dibatalkan dan tidak bisa dipakai gara gara dody mahuze tiba tiba ngambek dan bad mood ketika akan berhadapan satu scene pertama kalinya dengan pemeran cewek cantik (santi). Entah grogi atau malu dody jadi malas berakting sampai2 astrada berusaha membujuknya dengan menawarkan segala macam hidangan untuk membuat hatinya senang namun tetap ditolak, akhirnya syuting adegan ini pun pun ditunda sampai satu minggu lamanya menunggu dody kembali mood dulu. padahal lokasi syuting adegan ini letaknya sangat jauh dari pusat kota.


 VIDEO DIBALIK LAYAR PEMBUATAN FILM MELODY KOTA RUSA BAGIAN 7

 di bagian ke 7 ini memperlihatkan proses pengambilan gambar bernyanyi di klip gadis muting, ada spesial ditampilkan utuh dody bernyanyi bersama para kru untuk mengobati bad mood nya yang sering datang (lagu kesukaan dody pastinya black sweet). ada juga bagaimana membangun set panggung hiburan besar di kota merauke dimana adegan mereka gagal tampil dalam filmnya


VIDEO DIBALIK LAYAR PEMBUATAN FILM MELODY KOTA RUSA BAGIAN 8

 di bagian terakhir ini memperlihatkan suasana syuting di kantor polisi serta bagaimana kegiatan dalam mempromosikan penayangan film melody kota rusa di kota merauke pada januari tahun 2010



Sunday, 29 January 2012

LAUNCHING DAN PEMUTARAN KOMERSIL MELODY KOTA RUSA 2 DI KOTA MERAUKE DAN TANAH MERAH

Apresiasi Provinsi Untuk Merauke Enterprice

MERAUKE,ARAFURA,-Sebagai pribadi, anak Papua dan juga selaku pihak pemerintah yang dalam hal ini selaku Kasie Seni Rupa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua serta Wakil Ketua Dewan Kesenian Tanah Papua Provinsi Papua, maka Septinus Rumaseb turut memberikan apresiasi kepada daerah ini. Khususnya bagi Rumah Produksi Merauke Enterprice, para pemain dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Merauke atas keberhasilan lounching film Melody Kota Rusa (MKR) 2. Pihaknya sangat mengagumi dan salut atas kekompakan dari semua pihak tersebut demi mensukseskan MKR 2 yang juga bakal diputar di beberapa kota lain nanti.

“Luar biasa, karena ketika kita bicara tentang dunia akting maka hal ini sebenarnya bukan menjadi sesuatu yang baru lagi bagi orang Papua,”ujarnya kepada ARAFURA News di eks Bioskop Mandala Kodim usai menyaksikan lounching MKR 2, Kamis (12/1). Rata-rata orang Papua hanya belajar akting secara otodidak tanpa harus menempuh jalur pendidikan formal seperti di institut maupun perguruan tinggi. Jadi dapat dikatakan bahwa bakat atau potensi di bidang akting sebenarnya sudah tertanam sejak lama. Hanya saja belum ada ruang yang dapat memberi dukungan kepada mereka untuk bisa mengembangkan bakatnya itu.

Namun khusus di Kabupaten Merauke, ia menilai bahwa sudah cukup memberikan kesempatan tersebut dengan mulai memberikan ruang bagi anak-anak Papua dalam mengembangkan kemampuan aktingnya. Beberapa tokoh ternama dan juga sutradara terkenal telah memberikan pengakuan ketika mereka berada di Papua untuk memproduksi film. Sebab pemain yang mengikuti casting langsung berhasil dirangkul. Jadi tidak seperti di luar yang harus mengikuti casting berkali-kali dan juga bimbingan demi mendapatkan peran tertentu. “Itu artinya kita di Papua punya potensi untuk berakting.

Melalui Merauke Enterprice bakat yang ada kini sudah disalurkan dimana potensi yang ada cukup mendapat ruang dan kesempatan,”tukas pria yang khusus terbang dari Jayapura demi menyaksikan lounching MKR 2 ini.

Lebih lanjut pria yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia seni ini menambahkan, pihaknya hadir di Merauke atas undangan langsung dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Merauke. Oleh sebab itu ia rela meninggalkan segala kesibukannya untuk hadir karena menurutnya, lounching MKR 2 juga menjadi bagian penting yang harus mendapatkan support karena membawa nama Papua juga.(iis) 
SUMBER :
http://www.sentaninews.com/2012/01/apresiasi-provinsi-untuk-merauke.html

 Acho:”MKR 2 Terlama Dan Tersulit”

MERAUKE,ARAFURA,-Sutradara Film Melody Kota Rusa (MKR) 2 Irham Acho Bahtiar mengemukakan bahwa MKR 2 penggarapannya dapat dikatakan cukup berat dan melelahkan mengingat durasi filmnya sendiri yang juga termasuk panjang. Namun justru hal tersebut menjadi jawaban dari keinginan penonton yang sebelumnya sudah menyaksikan MKR 1 dan belum merasa puas karena durasi maupun lagu yang dinilai terlalu pendek. Padahal di mata Acho sendiri, durasi pada MKR 1 sebenarnya sudah cukup panjang namun demi memuaskan keinginan dari para penggemar MKR 1 akhirnya MKR 2 dikemas dengan sedemikian rupa sehingga dapat menjadi jawaban dari MKR 1.

“Jadi MKR 2 tampilannya lebih memuaskan dan merupakan tayangan terakhir sehingga tidak ada lagi sekuel untuk membuat MKR 3. Sebab apa yang menjadi impian dari para tokoh cerita di MKR 1 semua sudah terjawab di MKR 2,”ujar Acho kepada sejumlah wartawan saat jumpa pers di eks Bioskop Mandala Kodim, Kamis (12/1). Menurut pria jebolan IKJ ini, segala sesuatu yang mungkin saja masih mengalami kekurangan maka sudah bisa dilengkapi melalui film ini. Dengan kata lain MKR 2 sangat menyempurnakan semua yang sebelumnya tidak ada pada MKR 2. Terkait dengan soal akting para pemain lokal yang bermain apik di MKR 2, ia menilai sudah mengalami kemajuan yang cukup berarti.

Dari yang awalnya terlihat masih kaku atau bahkan masih ‘mentah’ untuk urusan akting, sekarang semakin trampil. Begitu pula untuk pemain-pemain baru juga bisa mengimbangi akting lawan main yang sudah lebih dulu eksis di MKR 1. Dalam hal akting, dirinya juga dibantu oleh Asisten Sutradara yang kerap ia sapa dengan panggilan Anto, dimana para pemain benar-benar digodok semaksimal mungkin dengan melatih mereka sebelum syuting berlangsung. “Kurang lebih mereka latihan selama dua bulan sedangkan waktu syuting MKR 2 dimulai cukup lama juga sejak Persipura main di sini Juli lalu,”ujar Acho lagi.

Ia mengakui kru dan pemain sempat istirahat syuting kemudian dilanjutkan September hingga November 2011. Oleh sebab itu sekali lagi ia menegaskan bahwa MKR 2 merupakan syuting terlama dari semua film yang sudah pernah ia buat sebelumnya. Faktor lain yang menyebabkan waktu syuting menjadi lama yaitu kesibukan dari beberapa pemain utama yang memang tidak bisa ditinggalkan. Apalagi ada pemain yang merupakan anak berprestasi sehingga pihak kru juga tidak ingin syuting yang dijalani akan mengganggu pemain tersebut dalam meraih prestasinya. Salah satu contoh adalah Herman yang sudah merupakan juara volley dimana saat syuting harus dapat membagi waktu antara aktivitasnya sendiri dengan akting. Walaupun kru dikejar dateline namun di satu sisi tetap mengharapkan agar pemain yang berprestasi tidak terganggu sehingga Herman masih diberi kelonggaran untuk menyelesaikan aktivitas volleynya terlebih dahulu.

Acho menilai, dibutuhkan kesabaran ekstra dari para kru khusus untuk penggarapan MKR 2 karena mengharapkan kualitas sebuah film yang betul-betul baik. Lebih lanjut Acho mengemukakan, jika nanti MKR 2 sukses diputar di sejumlah kota yang ada di kawasan timur, ke depan pihaknya akan berusaha agar MKR 2 juga dapat ditayangkan di bioskop ibukota. Tidak hanya itu, sudah ada undangan dari daerah di Sulawesi dan juga Jawa agar film ini dapat diputar di sana kelak.(iis)

 SUMBER :

http://www.sentaninews.com/2012/01/achomkr-2-terlama-dan-tersulit.html

 

Menggapai Impian Yang Tertunda
Oleh Agapitus Batbual,Joost W.Mirino   
Kamis, 02 Februari 2012 04:21
Setelah melakukan ayang perdana di Kota Merauke, Kru dan pemain Film Melodi Kota Rusa 2 akan melakukan tur keliling Papua.
JIKA selama ini Kota Merauke dikenal sebagai gudang atlit, beberapa tahun terakhir ini Kota Merauke lebih dikenal sebagai gudang pemain film. Setelah mengeluarkan 3 film di tahun 2010, kini sekitar 15 orang putra putri kota ini kembali berakting dalam Film Melody Kota Rusa 2 yang diproduseri oleh Iwan Tri Laksana Bahtiar dan Sutradara Irham Aco Bahtiar.
Pertengahan Januari ini film layar lebar tersebut diputar di Merauke selama empat hari di Ex. Bioskop Mandala-KODIM Merauke. Usai Film ini diputar di Merauke, rencananya film akan diputar di beberapa daerah di Papua seperti Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Asmat, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Biak, Kabupaten Nabire, Kabupaten Sorong termasuk Ambon. “Di Ambon, fans Melody Kota Rusa terbanyak setelah di Jayapura,” tuturnya kepada Tabloid Suara Perempuan Papua Kamis, 12 Januari lalu. Tur keliling ini juga menyertakan semua pemain pendukung film ini.
Sutradara Film Irham Acho Bahktiar merefleksikan,ternyata diluar Merauke antusiasme penonton terhadap Film Melodi Kota Rusa (MKR) 1 sangat luar biasa. Di Ambon, Media Indonesia pernah menulis dan meresensi film ini. Banyak sekali tanggapan mengapresiasi film pertama Melodi Kota Rusa, mulai dari Papua hingga negara tetangga Brunai Darussalam dan Malaysia. “Penonton menginginkan perjuangan ini jangan sampai berhenti di Distrik Muting saja tetapi berlanjut sampai Merauke. Walaupun gagal, tetapi nilai yang harus penonton timba adalah kekuatan bersama pada akhirnya berhasil,” katanya. Dengan alasan itu, ia kemudian membuat lanjutannya. Pada pertengahan Januari ini Film MKR 2 sudah dapat dinikmati masyarakat.
Jika dalam film pertama diceritakan beberapa Putra Papua yang membentuk Group Band Walef dan bermimpi mengikuti kompetisi band, namun akhirnya impian itu kandas dan hilang tak berbekas. Di Film MKR 2 diceritakan tiga tahun berlalu sejak Kanib dkk memutuskan kembali ke Kampung Muting dan memilih kembali berkumpul bersama sahabat sahabatnya dan melupakan ambisi kesuksesan yang hampir memecah belah mereka.
Suatu ketika di kampung Muting, datang dua orang pencari bakat dari Kota Merauke, mereka adalah Herman bersama asistennya Nato Beko. mereka mengaku diutus oleh Novi yang merasa berdosa dulu pernah menggagalkan Band Walef tampil di acara lomba 3 tahun lalu. Mereka berusaha membujuk para personel Walef, Kanib, Enob, Minggus, Yosep, Suroso untuk kembali ke kota meraih impian mereka yang dulu hilang. Pertemuan haru di kali Bian dengan Minggus menjadikan mereka makin kompak. dan ketika semuanya terkumpul, terjadi keraguan dengan status Suroso yang kini diisi kembali oleh Minggus sebagai penggebuk drum nya.Berbagai macam suka duka mereka alami menuju puncak yang diimpikannya. termasuk pertemuan Kanib dengan pujaan hatinya serta Suroso yang akhirnya bisa melupakan Santi.
Perjuangan mereka hampir mendapatkan jalan buntu. Seorang anggota DPR kemudian membantu dan akhirnya impian merekapun tercapai. Grup Band Walef akhirnya berhasil mengikuti kompetisi Band.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Merauke, Daud Holenger yang hadir dalam acara pemutaran perdana film ini melihat sebagai sebuah hasil terbaik yang dihasilkan Putra Putri Merauke dan Tanah Papua. Para pemain mempersembahkan hasil karya seni untuk mengharumkan daerah Papua, “Kalau mau mengerti Papua, tontonlah Melody Kota Rusa.” katanya.
Baginya, film ini menceritakan keadaan di Papua. “Film ini menceritakan siapa diri kita sendiri. Mereka telah berbuat untuk tanah Marind, bangsa dan negara ini,” kata mantan pengajar di SMA Johanes XXIII, Merauke.
Akting Suroso dan kawan-kawan memberikan ilustrasi yang sangat baik pada semua orang Marind bahwa kearifan lokal menjadi penting sekali. Kedepan ia mengharapkan semua orang memberikan dukungan penuh pada pekerja seni dengan cara tidak membeli film bajakan. Untuk itu, produser film MKR2 memutuskan untuk tidak mengeluarkan DVD dalam waktu dekat, sehingga untuk dapat menonton, penonton harus membeli tiket saat Film MKR 2 diputar di kota masing-masing.
Film yang 100 persen menceritakan pesona tanah Marind selain mendapatkan pujian, tetapi juga kritik dari penontonnya, “Saya kira penting supaya semua orang tidak hanya mengritik tetapi tidak bisa berbuat,” himbaunya.
Ia memuji dua pemain pendatang baru, Clemens Awi, 23 tahun yang berperan sebagai anggota DPRD Merauke dan Sesilia Putri Birio, 27 tahun  yang berakting sebagai istri anggota DPRD. Keduanya berakting sebagai dua orang yang tipikal sangat kotraversial. Clemens sifatnya sedikit acuh dengan keadaan, sedangkan Sesilia orangnya sensitif. Dalam film ini, mereka selalu “berperang” dan menciptakan cerita yang luar biasa.
Mewakili Bupati Merauke Romanus Mbaraka, Asisten II Gatot R. Marsigit sangat berterima kasih kepada Merauke Interpraise Production (MIP). Ia mengatakan bahwa  semua orang Merauke harus bangga karena MIP berhasil melahirkan anak-anak Merauke dalam dunia perfilman.
Merauke sungguh kaya akan budaya, terdapat 160 Kampung di kabupaten ini, serta berbagai suku bangsa dan bahasa. Banyak hal positif yang terkandung dalam budaya leluhur ini, “Kalau mau buat film lagi tentang budaya Marind, tolong diperhatikan dan mengajak tokoh adat setempat untuk terlibat langsung. Jangan melanggar hal-hal tabu. Apalagi berkolaborasi dengan kebudayaan lain,” katanya mengingatkan. Dengan begitu diharapkan dapat menghasilkan sebuah film dengan nilai edukasi yang tinggi.
Wakil Ketua Dewan Kesenian Tanah Papua, Septinus Rumaseb memuji keberanian putra putri Merauke  saat memutuskan memproduksi film  sendiri. Terutama dalam memutuskan untuk menempatkan para aktor serta aktris asal Merauke sejajar dengan orang asal luar Merauke. Apalagi di Film Melody Kota Rusa 2, semuanya aktor dan aktrisnyanya adala anak-anak kelahiran Kota Merauke, demikian halnya dengan sutradara maupun produser MIP.
Yang menjadi perhatian Rumaseb, pesan yang disampaikan dalam cerita Film MKR 2, benar-benar  menimpa seniman Papua seperti Group Band, Musisi, pelukis, pematung  yang belum menjadi tuan di negeri sendiri.  “Apa yang ditampilkan dalam group Walef adalah perjuangan seniman Papua, bagaimana mereka bisa mendapatkan perhatian. Lagi pula mereka berani memposisikan Group Band Walef sejajar dan perlu dihargai oleh berbagai pihak termasuk pemerintah,” kata Rumaseb.
“Secara pribadi, saya ingin melihat kapan seniman-seniman Papua hidup sejahtera? Meskipun sudah memiliki aturan, namun belum ada penegakan aturan yang berlaku,” katanya. Papua sudah memiliki Peraturan Daerah Propinsi (PERDASI) No. 19 tentang Perlindungan dan Kebudayaan Papua.Papua punya PERDASUS tentang Hak Cipta . Sayang hingga kini belum ada atuaran turunannya untuk pelaksanaan operasionalnya. Kedepan diharapkan ada peraturan operasional, sehingga PERDASUS dan PERDASI dapat melindungi karya para seniman Papua. 

Pemda Boven Digoel Akan Gandeng Merauke Enterprice

Boven Digoel, - Kota Tanah Merah sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Boven, memiliki berbagai potensi terpendam khususnya dibidang pariwisata. Hal ini mengingat awal pembentukan Kota Tanah Merah yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda, adalah dimaksudkan sebagai tempat pembuangan para tokoh kemerdekaan Indonesia yang memegang peranan penting dalam sejarah Republik ini.
Bangunan peninggalan masa penjajahan tersebut, beberapa diantaranya masih berdiri kokoh hingga saat ini, dan menjadi saksi bisu sejarah yang perlu senantiasa diketahui oleh para generasi penerus bangsa. Hal tersebut yang mendasari munculnya ide pembuatan film, sebagai sarana publikasi daerah ini ke dunia luar.
Demikian diungkapkan Event Organiser penayangan MKR 2 Boven Digoel Muhammad Iqbal,S.Kom ketika ditemui PAPUAPOS Tanah Merah di sela-sela kegiatan pemutaran film, Sabtu (21/1).
Menurut Iqbal, dengan adanya konsep pemikiran tersebut, maka dirinya coba melakukan sebuah koordinasi dengan melibatkan pihak Merauke Enterprice selaku Production House (PH) dengan pihak Pemda Kabupaten Boven Digoel yang diwakili Dispenda. Sehingga dalam kesempatan pemutaran film MKR 2 ini, turut pula hadir di Kota Tanah Merah Produser Merauke Enterprice Iwan Trilaksana Bahtiar guna melakukan penjajakan tentang upaya kerjasama ini.
Lebih lanjut disampaikan, dari hasil pembicaraan antara Merauke Enterprice dan Dispenda, ada indikasi positif guna merealisasikan hal tersebut kedepannya. “Materi yang rencananya akan dituangkan dalam ide pembuatan film adalah seputar tokoh Bung Hatta selaku proklamator kemerdekaan yang turut di buang ke wilayah ini. Untuk realisasinya tentu perlu pembahasan lebih lanjut, namun kiranya dengan terobosan ini, dapat turut menjadi sebuah wahana guna memperkenalkan berbagai potensi yang terdapat diwilayah ini,”terang Iqbal.(roi) 
SUMBER :
http://www.sentaninews.com/2012/01/pemda-boven-digoel-akan-gandeng-merauke.html

Jelang Penayangan, Tiket MKR 2 Mulai Dijual

MERAUKE,ARAFURA,-Jelang pemutaran perdana film Melody Kota Rusa (MKR) 2 yang bakal ditayangkan di eks Gedung Bioskop Mandala pada tanggal 12 hingga 15 Januari 2012 mendatang, maka proses penjualan tiket MKR 2 sudah mulai berlangsung. Terhitung sejak tanggal 3 Januari 2012 lalu sejumlah tempat sudah mulai memasarkan tiket film hasil karya anak negeri ini. Antara lain di Swalayan Rosty, Farida Salon, Toko Dua, di depan eks Gedung Bioskop Mandala serta beberapa lokasi lainnya di seputaran Kota Merauke.

Khusus untuk stan yang dipasang di depan eks Gedung Bioskop Mandala, penjualan mulai dibuka sejak jam 9 pagi hingga tepat 9 malam. Menurut Iwan Trilaksana Bahtiar, SP selaku Produser, pada penjualan tahap awal respon yang diperlihatkan masyarakat cukup baik. Meskipun diakui masih sebatas konfirmasi harga tiket dan jadwal penayangan film ini. Namun khusus di Swalayan Rosty diakui jika jumlah yang meminati lebih banyak dibandingkan dengan lokasi penjualan lain untuk sementara ini. Adapun harga tiket yang ditawarkan mulai dari 25.000, 35.000 dan 55.000.00.

Namun khusus pada saat malam Minggu harga yang dipatok mengalami perubahan mengingat jumlah penonton diperkirakan akan mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Oleh sebab itu harga yang ada sedikit mengalami kenaikan mulai dari 50.000 hingga 100.000.00. Sedangkan untuk jadwal pemutaran, pihaknya bakal menayangkan film tersebut sebanyak dua kali untuk satu hari penayangan. Yaitu pukul 15.00 WIT atau jam 3 sore untuk pemutaran pertama dan 18.30 WIT untuk sesi keduanya.

Iwan menjelaskan, MKR 2 memiliki masa putar dengan durasi sekitar 2 jam lebih. “Khusus untuk lounchingnya kita jadwalkan tanggal 12 Januari bertempat di eks Gedung Bioskop Mandala dengan mengundang sejumlah tamu penting termasuk Bupati,”terang pria bergelar Sarjana Pertanian ini ketika ditemui ARAFURA News di Kantor Merauke Enterprice, Kamis (5/1). Menurut Iwan, pembelian tiket pada tahap-tahap awal seperti ini memang masih didominasi dengan pembelian harga yang standar. Hal ini dinilai wajar karena pihaknya sejak awal memang berupaya agar harga tiket yang dijual tidak terlampau mahal sehingga masih dapat terjangkau kantong penonton.

Demi kesukseskan penayangan MKR 2 ini, sejak jauh-jauh hari pihaknya beserta kru telah melakukan langkah promosi dengan harapan dapat diketahui lebih banyak masyarakat di daerah ini. Walaupun diakui tidak ada promo khusus yang dilakukan di sekolah-sekolah maupun kampus dan hanya pemasangan poster saja di beberapa sekolah. Pihaknya berharap agar pemutaran MKR 2 dapat diterima oleh masyarakat luas bahkan kalau bisa mampu mengungguli kesuksesan penayangan MKR 1 yang sudah lebih dulu populer di berbagai daerah di seluruh Indonesia.(iis) 
SUMBER :
http://www.sentaninews.com/2012/01/jelang-penayangan-tiket-mkr-2-mulai.html

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Kakatua Kaskus | www.kakatua.web.id | Bloggerized by Irham Acho Bahtiar --- Izakod Bekai Izakod Kai | Satu Hati Satu Tujuan